Langsung ke konten utama

Aku Hanya Anak Desa

Ada sebuah penghambat mental saat aku ingin melangkah menuju sebuah ke sebuah keberhasilan.

Penghambat mental yang sebenarnya lucu tapi entah kenapa aku selalu tertahan oleh itu.

Saat aku ingin berpikir besar terkadang aku tertahan oleh kenyataan bahwa aku ini Cuma orang Brebes.

Ya syukur klo di Brebes kotanya lha ni di desa.

Yap aku terkadang terkalahkan oleh pikiran bahwa aku ini Cuma orang desa.

Gak kaya orang teman-temanku dari Jakarta, Semarang, Surabaya, atau dari manapun.

Sebuah kota yang klo orang dengar pasti tertawa karena teringat logat ngapaknya.

Aku memang Cuma orang Desa yang gak tau rasanya naik kereta kelas eksekutif apalagi Bisnis yang benaran, coz kereta Bisnis yang selama ini aku naiki gak jauh beda ma kelas Ekonomi alias abal-abal.

Anak Desa yang klo pergi pake kendaraan darat yang berjalan di jalan raya semisal Bus mpe sekelas Bus Nusantara aja aku mpe sekarang gak bisa lepas dari sebuah obat anti mabok.

Aku terkadang iri ngeliat teman-temanku dari kota yang jago ngomong, jago ndebat, dsblah, Nah aku mo ngomong aja sulitnya bukan main. Hehe

Yang terkadang aku sadari ketika mengendarai sepeda motor dan menatap bangunan Widya Puraya Universitas Diponegoro, aku masih berpikir “Apakah aku bermimpi? Gak ini bukan mimpi!” Aku ternyata sedang berdiri di sebuah Perguruan Tinggi ternama di Indonesia, yang gambarnya dulu Cuma bisa aku lihat di brosur yang aku lihat di ruang BK SMA 1 Brebes.

Say something! Apakah ini benar-benar nyata?

Dulu aku tak pernah berharap banyak pada SMAku, meski SMA-ku terbaik se-Brebes, bagiku sama aja ketika beberapa anak ikut lomba ini itu toh nanti juga kalah, kayaknya belum ada yang sampe tingkat nasional.

Pikiranku baru terbuka saat membaca sebuah bulletin dan profil sebuah SMA di Purwokerto, Mmmm, klo gak salah SMA 1 dech! Ternyata ada ya sekolah kayak gini, sekolah yang deretan prestasi murid-muridnya mpe ada yang mpe ke Belgia, oya ding SMA 1, coz ada Vampire-nya(bukan yang gigit darah tu, tapi ekstra PMR) dan Vampire itu yang pernah menjadi juara 1 lomba pmr se-Jateng di UNSOED dulu saat aku ikut. Dan ternyata akulah yang harus mendampingi seorang cewek vampire dalam penyematan tanda Peserta. Hduuuh, kenapa yang dipilih makhluk hina kayak aku yang cerumut-cerumut dari Brebes, sedangkan mereka pake jaket merah bertuliskan Vampire!!! Yah, Ternyata ada sekolah seperti itu.

Yap, dulu SMA-ku OSIS-nya pernah study banding ke sana, tapi aku gak ikut coz dah demisioner baru aja. Aku jadi inget cerita temanku saat kelas 1, temanku pernah cerita klo dia pernah coba daftar di SMA 3 Jogja, dan tau gak? Kan di Formnya ada kolom klo dah lulus mo ngelanjutin ke mana? Temanku mpe minder coz pada nulisnya ke Harvard, Tokyo, Sydney, dan temanku Cuma nulis UGM. Walhasil dia gak jadi ngelanjutin. Hahaha.

Ya selama ini aku Cuma dengar Sekolah-sekolah terbaik tu ada di Jogja ma Jakarta, tapi toh ternyata di Purwokerto yang masih serumpun bahasa ada juga sekolah macam tu. Aku baru tau Purwokerto tu 1 rumpun bahasa saat di angkot menuju kediaman Kakekku di belakang UMP. Aku pertama Cuma terbengong, ternyata ada juga masyarakat yang bahasanya gak beda ma orang Brebes.


Dulu saat masih nguplek di kampung bagiku ketemu orang yang pernah nongol di tayangan televisi adalah sebuah kehormatan luar biasa.

Dulu saat aku di kampung ketika ada pesawat terbang yang terbang meski Cuma keliatan asapnya tok, rasanya senang banget.

Dulu saat di kampung ketika lihat bangunan bertingkat di kota aku langsung terpukau kagum.

Nah, sekarang saat dah di Semarang gak tau rasanya jadi biasa aja ketemu Presiden.

Liat pesawat terbang yang hampir setiap hari menghiasi langit kota pun rasanya biasa aja, malah sekarang mengganggu, ya terkadang juga masih ada perasaan senang aja ngeiat pesawat gede.

Apakah aku bermimpi?

Nyaliku sempat menciut ketika SPMB, aku tak bisa bayangkan akan bertemu dengan anak-anak dari SMA 1 Purwokerto, dari SMA 1 Semarang, dari Pekalongan, dari Jakarta, dan aku Cuma dari sebuah kota pinggiran Jawa Tengah bernama Brebes. Tapi, Alhamdulillah keterima juga!

Lebih lucu lagi saat registrasi aku gak tau klo ternyata disuruh pake sepatu, jadi aku pake sepatu Pakdheku yang kebesaran ditambah gak pake kaos kaki. CPD!!! Perasaan bangga pun muncul saat ternyata aku baris di deretan Fakultas Kedokteran.

Saat aku menginjakan di Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro aku pun sempat mengkerut ngeliyat anak-anak asing pada meihat aneh wajahku atau penampilanku. Ya Alloh, apakah di sini Cuma aku satu-satunya orang Brebes? Adakah anak Tegal atau yang masih 1 rumpun bahasa ma akulah, coz aku masih asing dengan bahasa-bahasa mereka. Tiba-tiba ada suara menyapa “Hallo Imam!”sapa seorang cewek “Mmm, siapa ya?” “Ih, jahat gak kenal aku!” dan dia pun pergi. Aku pun masih bingug siapa dia tapi mukanya emang gak asing. Dan seiring berjalannya waktu aku baru tahu dia namanya Iin.

Di Fakultas inilah aku mulai mengukir harapanku ke depan. Melalui jurusan yang kata orang jurusannya orang bermasalah inilah aku juga harus berebut peluang kerja di kotaku jika memang nanti ternyata aku pulang. Namun, sebuah suara selalu membisikanku “Kamu Cuma orang Brebes gak usah bermimpi besarlah! Yang wajar aja!”

Yah, memang saat ini belum ada orang Brebes yang jadi tokoh nasional atau artis atau orang terkenal apalagi menteri. Tau Bus Dedy Jaya? Yah mungkin itu contoh sukses lain, tapi menurutku juga kelasnya masih standar orang desa juga.

Hffff, kenapa ya? Kenapa anak Desa bisa kuliah di sini? Lewat SPMB pula. Kenapa aku gak kuliah di UPS aja (Universitas Perek(Dekat) Stasiun)? Anak desa yang memang kebetulan anak orang yang ekonominya menengah tapi masih pusing mikirin rumah yang pada bocor klo hujan, masih pusing masa depan anak satu-satunya ini. Di sini aku malah Cuma bisa ketawa-ketawa, senyam-senyum gak jelas. Sepertinya aku terlalu berlebihan menuntut banyak dari orang tuaku. Namun, klo sampe ketahuan uangku nipis banget dan gak bilang aku bisa kena marah, meskipun sebenarnya aku punya simpanan.

Anak desa yang memang kebetulan punya saudara-saudara orang berkecukupan di Semarang, tapi terkadang ngerasa gak enak juga klo dateng ke situ pas jatah bulanan udah nipis. ^_^

Dan Anak Desa itu kini katanya jadi orang penting di kampus! Cieeee. Kepilih 2 kali jadi ketua di UPK kampus. Dan tau gak bawahannya? Yaitu anak-anak yang dulu baginya berasal dari sekolah-sekolah yang ternyata ada itu. Anak desa itu kini telah berkeliling ke mana-mana dengan motor Ayahnya yang klo nanjak tu beneran nglatih kesabaran.

Tapi, bagaimanapun ku ini orang desa yang gak tau lebih jauh seperti orang kota, Atau aku gak seperti mereka yang berasal dari SMA-SMA yang ternyata ada itu, yang klo foto close up pake jaz atau bahkan dasi. SMAku yang penting hasilnya bisa dicetak aja udah syukur. Di satu sisi aku merasa gak lebih baik dari teman-temanku yang lain, namun di sisi yang lain aku merasa beruntung coz klo stress gak mpe kayak di sinetron tu.

Bagaimanapun keadaannya aku bersyukur telah terlahir di dunia ini dengan melihat senyum manis mentari yang terbenam di ufuk barat di sebuah desa yang penuh kenangan bagiku. Yang sebentar lagi mungkin aku tak akan di situ lagi. Entah, esok aku masih kan di sini atau di tempat lain namun aku bangga telah terlahir di Brebes ini. Meski suara-suara itu tetap muncul bukan berarti aku harus berhenti begitu saja.

Dan Anak desa ini kini ingin melangkah memulai melihat betapa luasnya bumi ini.

Di Kamar Kostku yang bagiku mulai tampak asyik dengan posisi barunya.

23.10 WIB

Sambil dengerin lagu “You Make Me Feel-Westlife” yang tanpa sadar dari tadi tu muter terus.

Biar anak desa ini gak tau bahasa Inggris, tapi gak papa donk nampang ndengerin lagu barat! hehehe

Kapan-kapan lanjut ya????



Komentar

Postingan populer dari blog ini

AKHIRNYA PUNYA FOTO KELUARGA JUGAAAAAA!!!

Akhirnya Wisuda jugaaaaaa!!!!!   Meskipun sempet miskom sama Ayah, yang berakibat gak datangnya orang tuaku ketika wisuda di Universitas. TT juga. Berangkat sendirian, celingak and celinguk sendirian, sementara yang lain pada didampingi. Padahal ayah pengen banget liat aku pake Toga. Fiiiiuuh… Tapi sudahlah, cukup ada fotonya, kata Ayah. Tapi, mereka datang juga malam sekitar jam 8nan, dengan peristiwa tersasarnya rombongan ayah dan mamah entah ke mana? Tapi akhirnya datang juga mereka di kostku. Dan makan-makan besar bareng anak-anak kost. ^^b Yang terpenting bagiku di moment wisudaku (terutama di Fakultas) adalah ALHAMDULILLAH, AKHIRNYA AKU PUNYA FOTO KELUARGA JUGA, YATTA!!!! Liat teman-teman pada punya foto keluarga, kadang buatku iri.huhuhu Biasanya tu kalo aku foto sama ayah terus mamah yang motoin, kalo foto ma mamah, ayah yang motoin. Teknologi zaman dulu belum canggeh meen. Yeap, inilah keluarga kecilku (Cuma aku, ayah, dan mamah). Mungkin ini beberapa hal yang pe...

Kucing Kampus

Entah, kabar dari kecoa mana? Tiba-tiba banyak yang bilang ke aku, klo aku sekarang beda kaya aku yang dulu. Aku yang sekarang pada bilang aku gak jelaslah, aku GJ-lah (oh sama ya?), aku sotoy lah, bahkan ada yang bilang aku stress. Beda banget kaya aku yang dulu, klo aku yang dulu lebih sopan, alim, suka nunduk-nudnuk kaya onta, pokoknya sosok laki-laki idaman lah. Sekarang? Wuiiih, percaya atau nggak, sekarang aku lebih gila men. Alias gila beneran. Terus aku berpikir, emangnya aku kenapa ya? Segera aku teringat tentang diagnosaku ketika masih nyantri di RSJ di daerah Jawa Timur. Di situ hasil tes menunjukan bahwa aku terindikasi DEPRESI. Hmmm, mungkin ini dia masalahnya. Ternyata waktu dua minggu belum cukup untuk memulihkan kondisi kejiwaanku. Sehingga masih bisa kumat sekarang. Obatku mulai jarang aku minum. Mungkin aku perlu kontrol lagi barangkali ada peningkatan dari depresi mengarah kepada skizofrenia. Hal ini tidak lah aneh karena  akhir-akhir ini aku sering memilik...

PsikoSeks : Gila-Gilaan liatin PSK

Skali lagi aku gak pernah ambil ni mata kuliah? Tapi aku rasa aku ingin berbicara tentang pembicaraan yang menarik ini. Seks, kebutuhan biologis manusia untuk melanjutkan keturunan dan spesiesnya. Jangan sampe spesies manusia punah sehingga tahun 3000 nanti bumi ini akan dihuni oleh para sinpanse. Mulai dari sinpanse yang jadi Polisi, jadi Presiden, hingga jadi psikolog. Kacau ... Yap, sore ini seperti biasa aku melakukan kegiatan rutinku, yaitu Bengong. Kali ini yang menjadi tempat bengongku adalah MAJT atau Masjid Agung Jawa Tengah. Masjid yang luas ini sering menjadi tempat tujuan utama bagi mereka-mereka para mahasiswa yang sudah diwisuda. Aku gak ngerti kenapa? Pasti klo abis wisuda banyak teman-temanku atau senior-seniorku yang foto-foto ma keluarganya di sini? Mungkin karena juga masuknya murah klo pake kendaraan, yaitu motor roda dua cukup Rp 500,- Setelah maghrib tercetuslah insting liarku untuk melewati para PSK (Pekerja Seks Komersial) di sepanjang jalan antara stasiun ...