Sabtu, 11 Juli 2026

Janji Ya ...

Jogja, Januari 2016

"Ed ..."
"Hm..."
 "Aku udah capek bermimpi lagi," Kataku sambil memandangi ketika kami duduk di pinggir jalan Pringgokusuman menatapi kali Code yang mulai berubah warna menjadi orange, menunggu waktu maghrib tiba.
"Kenapa, Sal?" Tanya Ediwan ...
" Entahlah aku ingin apa sekarang?"
"Kita harus tetep punya mimpi, Sal ..."
"Gitu ya?" jawabku malas.
 hening sejenak .....

"Sal, janji ya..." Kata Ediwan
"Apa?"
"Janji, kita nggak akan melupakan saat-saat seperti ini..."
"Kenapa?"
"Mungkin nanti ketika kita masing-masing sudah berumah tangga, kayaknya saat-saat seperti ini akan jarang."
"hehe ya udah keluar bareng aja sama istri masing-masing."
"Ne gelem."

Tapi ... iya, masa-masa kebersamaan dengan sahabat-sahabat tercinta setelah lulus S1 rasa-rasanya menjadi sangat mahal. Keterpisahan kami dengan jarak dan waktu membuat kadang harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Aku misalnya, untuk bisa menikmati ngopi bareng dengan Ediwan harus ke Jakarta coba. Padahal dulu S1 mau ke mana aja tinggal pake motor terus udah deh keliling Semarang sampe bosen, bisa hampir setiap hari pula. Nah, sekarang? Ketemu setahun sekali aja sungguh berharga. Makanya kadang aku bilang ke adek-adek S1, "Puas-puaskanlah kebersamaan kalian, mungkin suatu saat kalian akan jarang seperti ini lagi."

Dulu kalau debat bareng bisa sambil ketawa-ketiwi bareng plus makan, sekarang debat di chatting itu sulitnya bukan main. Belum lagi kalau typo, haduuuh Hape, Smartpon, rasa-rasanya jadi teman istimewa ketika jarak menjadi penghalang. kayaknya aku tau nih rasanya LDR, haha Mengarungi Semarang, kota kenangan kami, pun rasanya berasa aneh tanpa satu orang teman pun. Keramaian Semarang terasa hambar...
Aku coba buka lagi catatan-catatan tentang kami dulu ...

"28 Juni 2012, “aku lagi nemenin Amin ke Solo, ketemu subyeknya.” “Ke Solo ga bawa pamflet?” “Bawa kok” Yap, aku bawa beberapa lembar pamflet di tas kecilku, meski berat tetapi kalau udah banyak yang ditempel nanti jadi ringan. Sehingga, setelah urusan temanku itu selesai, aku mengajaknya ke UNS untu menempel pamflet.
“Dah kamu di sini aja, aku ta nempelin nih pamflet,” kataku ketika di masjid Nurul Huda UNS
“Beneran? Nangis kowe”
“hehehe”
Mulai lah aku menempel ke sana-sini di beberapa madding umum dengan berjalan kaki. Mulai dari yang terdekat dengan masjid kampus sampai yang cukup jauh. Aku tidak tau seberapa jauh yang aku lewati. Kadang ketika aku jalan, yang aku temui ternyata jalan buntu. Terus saja berjalan dan menempel di beberapa spot madding umum. Hingga…
“Min, aku nyasar” smsku ke Amin yang mungkin lagi istirahat di maskam, maklum sedari Semarang dia juga yang nyetir motor roda duaku.
“Terus gimana? Terus gue harus bilang wow gitu? Laik kwe” sms Amin

Tantangan lain bersahabat pasca S1 adalah, masing-masing udah pada nikah, berumah tangga. Aku coba memahami apa maksudnya Ediwan dengan kata-kata itu. Kayaknya aneh deh klo kita jalan-jalan bareng sama istri masing-masing terus jalan-jalannya ke rumah sakit, ke stasiun-stasiun, belum lagi klo dah pada bawa anak.


10 tahun kemudian .....


6 Juli 2026
"Bos, dirimu nang Temanggung opo Semarang?" 
"Saiki Temanggung, Insyaallah nyemarang di Senin-Rabu besok, ..."
"<send foto> Ta mampir ya"
"Ndi kui? monggo, tapi sek ya, ge ngetes. Nani ada kok, paling max 1 jam neh"
"Magelang :D"
"Oh. Yo nyandak lah"
"<Send location> sek ta leren"
Ediwan memanggil ... "Bos, parkiri rene wae"
"Oh ya, sek ..."

10 tahun sudah, kini Ediwan sudah menikah dengan teman kami sendiri, Nani. Dikaruniai seorang anak. Mereka mendirikan sebuah biro psikologi di Temanggung, biro yang konon "tertua" di kota itu. Selepas menikah, Ediwan akhirnya resign dari kerjaannya di Jakarta dan sempat tinggal bekerja di Jogja. Sebelumnya akhirnya diPHK ketika Covid-19 melanda di tahun 2020an.  Mereka sempat berjualan ini itu.

Aku duduk di bangku kayu biro Psimpul , dengan berbagai buku yang tersusun rapi ditambah juga mainan anak-anak, dan mainan puzzle kayu yang dulu pernah dipamerkan Nani sewaktu kuliah S2. 
"Sal, iki lho celanaku wis rak muat" Cerita Ediwan sambil menunjukan celananya yang sudah tidak muat karena perut buncitnya.
"Podo kok Ed, makane aku saiki nganggo celana sing nganggo koloran, haha" 
"Nopo kok mrene?" Tanya Nani sambil menyuguhkan roti-roti mungil
"Hahaha, kudune aku ke Jogja, ono acara tapi nang dalam kejebak macet, dadi ah paling tekan Jogja acarane yo wis bar, bingung tho wis tekan Kutoarjo, yo wis rene wae"
"Njuk anak bojomu?" Tanya Ediwan
"Nah, mau esuk aku nganter nang stasiun meh ke mbah Kakunge sing nang Cirebon, liburan sekolah kan soale"
"Oooh, sangar ik Faisal wis tekan kene dewekan"
"Hahaha Alhamdulillah

Obrolan kami siang itu bercerita tentang kabar teman-teman kami sekarang. Satu lagi, sekarang Ediwan lebih spiritual, kalau dulu ngomongi hal-hal kejawen, sekarang referensinya " Jare kyaine Bapake Nani ..." Aku curiga, lama-lama Ediwan akan jadi Pemuda Ansor.
Sore itu, Ediwan mengajakku mengelilingi kota Temanggung sambil, seperti biasa ... Kami cari spot makan buat ngobrol ngalor ngidul. Tentang One Piece, tentang kesibukan masing-masing, tentang "Jare kyaine Bapake Nani ...", oiya satu lagi, Boboboy 
"Pateni sek lagu Indiamu iku. Rungoke playlistku sing iki, iki ta rungoke nggo nyemangati" Kata Ediwan sambil memperdengarkan lagu "Bangkit Anak Muda" dari film Boboiboy. Penggalan liriknya seperti ini 

"Bangkit anak muda
Tempuhi rintangan
Perut bukan halangan
Semangat wajah terus membara"

"Lho perut bukan halangan kui lho" kami pun tertawa, relate dengan kebuncitan kami.

Sorenya aku pamit kembali ke Purbalingga, sebelum sore berganti malam. 

Aku mampir di sebuah spbu untuk menunaikan sholat maghrib di Wonosobo. Selepas sholat, aku pun mencari-cari sandal japit biruku. "Heh ke mana?" Di situ, aku terdiam sejenak, Tampaknya Alloh ingin menghiburku, setelah Ayah tiada beberapa minggu lalu. Sandal itu yang aku gunakan mengantar beliau ke liang lahat. Aku pun menghela nafas sambil tersenyum. Alloh ingin aku melupakan kesedihan, termasuk juga dengan perjalanan hari ini. Alloh hanya ingin memaknai kembali semuanya. Kembali mengingat lagi mimpi-mimpi yang dulu. Perjalanan buat menyemangatiku kembali.

Aku mengambil sandal cadangan, dan kembali melanjutkan perjalanan....


 

Minggu, 21 Februari 2016

Sepenggal Cerita Tentang Tesisku



"Jika kita memang seorang master, berperilakulah sebagai seorang master.”
(Duddy Fachrudin)



Kata-kata dari mas Duddy, temanku yang kuliah di mapro, di bukunya 10 Pesan Tersembunyi & 1 Wasiat Terakhir itu sering membuatku berpikir, "Iya juga ya, cara menyikapi tesis S2 dan skripsi S1 seharusnya berbeda." Namanya juga master, guru, masa nyikapi tugas akhirnya segalau S1 dulu? Lucu kan? Seharusnya kan agak dewasa dikit, bukan malahan makan daun di depan masjid, nyari kamar mandi, atau hal-hal gila lainnya. Haha jujur aku agak kesulitan nulis segila dulu sekarang. "Gimana ya ngelucunya?"
Aku tau, mungkin tesisku terlalu sederhana, bahkan terlalu tipis untuk ukuran sebuah penelitian kualitatif. Namun, bagiku bukan itu yang terpenting. Aku bersyukur telah belajar banyak selama proses tesis ini. Dibimbing (oleh pak Subandi) dan diuji (oleh pak Faturochman dan pak Helly) oleh orang-orang hebat. Aku belajar banyak hal tentang hal-hal akademis dari mereka, tetapi aku pun belajar sangat banyak bagaimana harus bersikap dewasa. Kalau kata mas Duddy bahwa seorang master seharusnya pun bersikap seperti seorang master.
Segala rasa sakit hati, patah hati, kecewa, cemas, marah, kesal, tetapi juga senang, pasrah, bangga, dan lain sebagainya mengiringi setiap proses tesisku yang hampir setahun ini aku kerjakan. Aku katakan, “Tesisku biasa saja, tetapi cerita di sekitar pembuatannya yang bagiku luar biasa.” Kenapa? Karena aku pun bertransformasi menjadi individu yang lebih baik dalam menyikapi segala sesuatu. Aku pun bertransformasi menjadi lebih sehat secara psikologis, dengan meninggalkan perilaku-perilaku negatifku dulu, mencoba lebih mengendalikan nafsu-nafsuku. Aku pun bersyukur semua itu ada, Alhamdulillah.
Aku mungkin terlalu terburu-buru dengan tesisku, bukan karena sudah bosan di kampus, tetapi aku memang begitulah tuntutannya. Selain itu, aku ingin membantu teman-temanku, ya masa aku mau bantu mereka tapi aku sendiri keteteran? Ya kadang harus ada yang berkorban di depan untuk menunjukan jalan keluar. Ibaratnya aku dan teman-temanku sedang ada di hutan belantara, masing-masing kami sulit untuk mulai bergerak karena tak pernah yakin, karena menganggap ini sulit. Aku memilih berkorban demi Tuhan untuk mereka, meskipun harus tertancap duri, diserang hewan ganas, dan sebagainya. Seperti itulah rasanya, ya dikomentari tesisku, bahkan merasa bodoh dengan tak mengetahui hal-hal mendasar dari tesis itu sendiri.
“Apa itu tesis?” Tanya pak Fatur pada suatu ketika di ruangannya.
“Nggak tau Pak.” Jawabku sambil menggelengkan kepala.
“Nggak tau? Wah Parah.”
Mungkin jika waktunya lebih lama lagi, aku merasa bisa membuatnya jadi lebih baik, tapi ya apa iya seperti itu?
Aku pun belajar untuk lebih spiritual dalam melihat berbagai macam hal. Meskipun kadang nafsu ini sering berontak ketika dihadapkan pada hal-hal yang tidak nyaman. Namun, di situlah imanku terasa diuji. Ingin marah pada Tuhan rasanya, tapi kalau mau dipikir-pikir bisa saja segala kesulitanku memang cara-Nya agar aku tak terjebak dalam bahaya yang lebih besar. Ibaratnya ketika aku tersesat di hutan belantara dan meyakini bahwa jalanku sudah benar, tetapi tiba-tiba ada sesuatu yang mengubah jalanku. Mungkin aku berpikir, “Ah, sudah susah-susah buat jalan malah ada pohon jatuh,” atau “Sudah jauh-jauh malah ketemu singa tidur.” Padahal bisa jadi jalanku itu ada perangkap atau berujung di jurang. Tuhan lebih tau yang terbaik buat hamba-Nya.
Kadang pun aku suka mengeluh, “Kenapa kok salah terus?” Namun, Alloh mengingatkan aku melalui temanku, “Kamu enak ya udah semhas, aku belum.” Iya, aku ini kurang bersyukur ya? Di sisi lain, selalu saja ada hambatannya, seperti gagal ketemu dosbinglah, masih salahlah, atau apapun, padahal udah narget tanggal-tanggal sekian harus selesai ini itu. Ya aku ini kurang sabar ternyata. Aku sadari, tesisku tak se-WAH skripsiku dulu yang tampaknya gampang saja, tapi dari sini aku belajar pula banyak hal. Ingat master harus bersikap sebagai seorang master. 
Aku belajar untuk memotivasi diriku sendiri. Jika dulu waktu skripsi, aku kadang masih bergantung pada orang lain. Berharap ada teman lain yang iba, mau membantu, dan sebagainya, sekarang? Aku cuma berharap iba dan bantuan-Nya Alloh SWT ala ajah. Karena itu pula, aku memanfaatkan kerusakan smartphone-ku dengan tidak membuka terlebih dahulu WA, Line yang bisa mengalihkan fokusku. Mendekatkan diri melalui ibadah itu pasti, tetapi ada hal-hal lain juga yang musti dilakukan, yaitu bantu juga teman-teman yang lain. Minimal memotivasi mereka. Kadang juga berdiskusi atau menanyakan kabar. Hehehe Aku berharap Alloh pun akan menolongku jika aku menolong mereka. Namun, tetap saja akhirnya balik ke diri sendiri, kalau bahasanya temanku dulu, menolong diri sendiri.
Bayangin aja, laptopku rusak, dia kalau ta bawa ke Jogja  jadi error, tapi kalau ta bawa ke rumah, sehat dia? Apa ada medan magnetnya ya di Jogja? Segita Bermuda mungkin yang narik Superman naik dokar. Hehe Belum lagi ketika aku belajar ngajar di Universitas swasta Brebes. Hampir setiap minggu harus bolak-balik Jogja – Brebes, semester sebelumnya bolak-balik Semarang – Jogja sampai kena banjir di jalan akibat sungai-sungai yang meluap. Ah, rasa-rasanya begitu luar biasa. Namun, kadang perjuanganku belum apa-apanya dibandingkan teman-temanku yang lain. Mereka ada yang sampai dimarah-marahin dobingnya, hujan-hujanan demi bimbingan di rumah habis itu ditolak. Luar biasa tesis itu.
Rasa-rasanya tesis ini menjadi begitu spesial karena berbagai macam cerita yang terjadi. Namun, secara keseluruhan, aku puas dengan tahun 2015 ini, Alhamdulillah dengan berbagai macam keajaiban yang Alloh berikan. Mungkin iya aku harus sendiri, mungkin iya aku harus mendapat banyak komentar, mungkin iya aku harus merasakan banyak perasaan negatif sekaligus positif, tapi itu bagian dari pembelajaran untuk bersikap lebih bijak terhadap segala sesuatunya. Oleh karena itu, biarlah tesis ini aku persembahkan untuk Alloh SWT yang telah membimbingku sejauh ini, juga untuk kedua orang tuaku, guru-guruku, teman-temanku, dan semua yang terlibat dalam cerita ini. Terima kasih, semoga Alloh SWT membalas dengan berlipat-lipat kebaikan dan keberkahan, aamiin.

Seharusnya publish di 22 Februari 2026

Selasa, 16 Februari 2016

Nostalgia Skripsi Di Kala Tesis

Pukul 09.45 WIB aku sudah duduk di salah satu bangku kantin Fakultas Psikologi UGM. Memainkan smartphone-ku dan sesekali membuka handphoneku, memeriksa sms yang mungkin masuk. Rasa bosan mulai terasa, tengkukku pun mulai pegal, ditambah perutku sudah main musik jazz (udah gak zaman lagi nyanyi keroncong di perut, jazz-lah sekali-kali, iya gak?). Rencanya mau ketemu dengan penguji tesisku, pak Helly. Beliau memang lebih suka berada di luar ruangannya daripada di ruangannya (mubeeeng). Depanku mas-mas bergaya ala traveller yang sedang mengepulkan asap laknat (baca : merokok). Aku janji ketemuan sama pak Helly untuk menyerahkan revisi tesisku pasca ujian tesis. Beliau bilang ketemuan di tempat biasa antara pukul 10.00 dan 13.00.
Aku selalu ingat kata-kata mba Pipit, seniorku di Psikologi Undip, bahwa lebih baik nunggu lama sekarang daripada nunggu lagi besok. Ya belum tentu besok kita bisa ketemu dosen. Jadi, aku sabar-sabarin aja nunggu sampai bosan. Beneran aku pun di puncak kebosananku pada sekiatar pukul 11.15an, sehingga aku memilih untuk balik ke perpus kampus. Zaldi masih di salah satu komputer setianya di perpus kampus. Dia masih tempat itu ketika terakhir aku tinggal pergi (setia bingiiit).
"Udah Mas?" Tanya Zaldi.
"Belum, belum ketemu..." Kataku sambil duduk dan membuka komputer.
Moodku jadi jelek. Aku tak merasa tertekan dengan tesis ini, berbeda dengan skripsi dulu. Hanya saja aku merasakan kejenuhan luar biasa tentang semua yang aku lakukan dan aku harapkan. Salah satu hiburanku ketika masa tesis ini adalah blogku sendiri fayssmile.blogspot.co.id. "Ya Alloh, aku kok malu-maluin ya dulu?" "MasyaAlloh, aku kok bisa gitu?" Kadang ketawa-ketawa sendiri, seolah-olah yang aku baca bukan aku. Ada sedikit keceriaan. Masa-masa seperti ini aku jadi ingat masa-masa skripsiku dulu. Masa-masa galau, haha tapi masa-masa itu merupakan masa-masa paling powerfull, berasa kaya di film-film action. Tampaknya ada tulisanku tentang skripsi yang belum sempat ter-upload...
 

Dari Kursi Ambruk Sampe Kepedesan Maicih

Berjuta galau yang telah aku  rasakan, rasanya sudah satu tahun  aku melewati masa-masa suram dalam hidupku. Kadang rasanya ingin bebas, ingin terbang, ingin teriak, dan lain sebagainya berjuta rasa nano-nano yang aku rasakan. Satu tahun sudah sejak tahun lalu aku mulai menulis kegalauanku di blog in tentang SKRIPSI, PNS, hingga PMS, dan tulisan-tulisan absurdku yang gak jelas, mulai dari masalah kelangkaan air di kost, ke kampus gak mandi, sampe berjuta hal bodoh yan aku telah lakukan. Semuanya-semuanya begitu menakjubkan.
Mungkin sudah banyak rasa yang aku rasakan hingga pada titik ini, senang, sedih, marah, kesal dan semuanya terangkum dalam satu kata, yaitu galau. Ada beberapa orang temenku (yaiyalah orang masa cacing?) yang menolak kegalauan itu, “ah gak, aku gak galau kok” ato “bang bawangnya berapa?” (oh maap yang teakhir tu gak nyambung,hehe). But, aku mencoba menerima aja kegalauan itu, jika kemudian aku identik dengan cowok galau karena skripsi, ya biar saja.
Dalam rentang waktu itu juga, aku sudah banyak mendapatkan petuah-petuah bijak dari ayah., mamah, teman, dosen, sampe ibu-ibu yang anaknya minta dinikahin (halah, bo’ong ding,hehe).
Sepertinya lama aja kegalauanku itu, mungkin kalau dalam bahasa psiklogi kesehatan, galauku itu sudah kronis kali ya? Entah aku pun bingung, sebenarnya apa yang aku tunggu untuk segera menyelesaikan skripsiku? Kadang aku menyalahkan mood karena tak kunjung juga membaik. Ada dosen yang menyarankanku untuk menikah dulu aja, but itu tak mungkin.

28 Juni 2012 – Ketika menunggu kesempurnaan
Kadang aku berharap menunggu segala sesuatunya sempurna, mungkin itu yang sebenarnya aku tunggu. Tetapi, ketika diajak oleh Amin, untuk bertemu dengan subyeknya di RS dr.Soeharso, pada tanggal  28 Juni 2012, aku tersadar dengan sebuah tulisan di rumah sakit tersebut,
Yang bikin masalah adalah orang-orang yang selalu menunggu segala sesuatunya sempurna” (Lee Lacocca)
Aku gak kenal siapa itu Lee Lacocca itu? apa hubungannya dengan coca cola? Apakah juga ada hubungannya dengan salah satu merek celana jeans? Atau apalah? Tetapi kata-katanya itu menyadarkanku untuk tidak lagi menunggu kesempurnaan, terima saja, lakukan saja, jalani saja.

15 Juli 2012 – 2 kegalauan dan ribuan senyum
Kaya judul bukunya pak Dahlan Iskan ya? Tapi sayang itu bukan kata-kata dari seorang menteri BUMN, melainkan dari mahasiswa galau yang belum lulus-lulus juga kuliahnya. Hadeeeh. Mencoba menata diriku kembali dari segala kekacauan dalam hidupku. Termasuk aku ingin menutup akun FB sementara, karena banyak pemicu galau di sana, gak kuat liat foto-foto narsis saat wisuda, dsb.

16 Juli 2012 – Berjuang hingga di titik terakhir
 Akhir-akhir kemarin aku luar biasa galau, hingga terkadang tidur larut malam, entah ada sesuatu yang tidak bisa membuatku merasa nyaman untuk tidur. Pikiran ini terus ingin memikirkan sesuatu tetapi aku pun tak faham dengan pikiranku sendiri. Beberapa temanku juga semakin menguatkan kegalauanku, seperti Amin dan Ediwan. Hari itu Ediwan di kostku, dan menjelang sore aku tinggal sebentar ke kampus karena aku harus mengurusi rencana keberangkatanku ke Jakarta untuk presentasi ilmiah.
Hingga hari itu, aku, mas Mul, dan Karim yang berencana berangkat nanti malamnya belum ada kejelasan, padahal kami harus ada d Jakarta besok pagi. Keterbatasan dana yang menjadi masalah, sedangkan PD III juga belum bisa membantu, sehingga akhirnya kami mengurungkan niat untuk pergi. Tetapi, masih tetap ada perasaan lega karena ada kejelasan tentang keberangkatan kami. Sejujurnya aku hanya ingin menghindar dari wisuda yang besok akan diselenggarakan oleh univeristas, dan lusa yang akan diselenggarakan oleh fakultas.
Setibanya di kost, dengan wajah yang sangat lusuh, aku duduk di kursi kostku tercinta. Sedangkan Ediwan sedang bermain games dengan handphoneku. Rasanya nyaman sekali bersandar di sebuah kursi, tapi “BRUAAAK” salah satu kaki kursiku patah dan aku pun terjatuh. “Piye tho koe Cal?” kata Ediwan, sementara aku sedang berusaha kerasa untuk berdiri lagi sambil tertawa. Mayuuu, bahkan kursiku pun tidak kuat Manahan kegalauanku.

17 Juli 2012 – Menghindar
Wisuda 127, aku lebih memilih jalan lain, berusaha untuk tidak melewati area tempat wisuda Universitas diadakan. Rasanya aku gak kuat menahan berjuta kebahagiaan, sedangkan kegalauanku masih tertanam dalam diriku.
Aku mencoba menghibur diri dengan mengerjakan skripsi, haha ternyata dalam kekalutan seperti itu aku pun memiliki katarsis untuk mengerjakan skripsi. 2 minggu lagi pendaftaran skripsi akan dibuka. Aku putuskan untuk berjuang hingga di titik terakhir. So, aku pun meminjam lapy ke Zaldi kalo aku di kampus.
Oya, ditemenin ma Amin, aku beli kursi kost baru lho… xaaxaxa

18 Juli 2012 – ke manakah kau?
Aku berusaha banyak menghibur diri dengan sering ke kampus, bertemu dengan banyak orang. Menyapa, bercengkrama, dan bilang,“Senang rasanya masih bisa lihat 2006 di kampus” ke Handung, (mas komting 2006 yang lagi berusaha untuk juga segera lulus, semangat Mas ^^/).
Ucapan Zaldi, “Ayo Mas 12 hari lagi” menyadarkanku kalau waktu pendafataran semakin dekat. Dan aku masih berkutat di BAB IV. Jadi teringat kata-katanya Purwanti menjelang sidang, “Yuk, bertahan lebih lama dan bekerja keras”

19 juli 2012 – Fokus dan tahan banting
Aku sms tentang pejabat birokrasi kampus yang berkeliling kampus mengucapkan selamat ramadhan ke temen-temen, baik yang masih ada sudah lulus. Beberapa membalas, dan mungkin Apri yang paling berkesan, karena memberikan petuah bijaknya, “Fokus dan tahan banting” meskipun dalam bayanganku, kok aku jadi inget sesuatu ya dengan kalimat itu? apa ya?
Aku menyadari satu hal, bahwa yang membuatku belum atau terlalu lambat untuk melangkah adalah karena ketakutanku sendiri untuk salah. Padahal memang proses ini kita harus merasakan salah.

20 Juli 2012 – Skripsi itu WOW
Beberapa orang sudah berpuasa, tapi aku  makan keripik pedas berdua sama Purwanti, yang dikasih petugas perpustakaan, sambil bahas unit makna skripsiku. “Kamu pernah makan Maicih?” “Belum, kenapa?” “Gak kemaren aku habis beli” gak penting banget sih. Tapi keripik yang kita makan emang enak sih, sebelumnya bayanganku Maicih tu kaya keripik singkong yang berlumuran cabe seperti dulu pernah dibawain sama mamah. Ternyata bayanganku sepertinya salah.

21 Juli 2012 – diskusi diskusi
Jujur kekalutanku akhir-akhir ini, membuatku merasa belum memiliki rencana penting buat ramadhan so Puasa hari pertama, setelah sholat subuh aku tertidur, padahal aku sudah menset weker jam 05.45 untuk bangun dan mulai mengerjakan skripsi, tapi mata ini gak bisa diajak kompromi buat bangun. Akhirnya aku paksa aja bangun, keluar kamar, pergi ke kamar mandi, dan ngapain coba? NGURAS KAMAR BAK MANDI, apaan coba??? Kaya ngelindur aja bangun tidur langsung nguras bak mandi.
Tembalang sudah mulai sepi karena bertepatan dengan liburan semester. Aku cari-cari pulsa pagi aja belum ada counter yang buka, kalah sama toko roti yang dah buka di pagi hari. Haha.. But yang paling menyenangkan adalah hari ini bisa diskusi bareng ma bu Anita di rumahnya Nani, aku, Zaldi, Ediwan, sama Amin. Paling tidak aku bisa ngerjain skripsi hari itu, dan tanya-tanya tentang kualitatif ke bu Anita.

22 Juli 2012 - Beraniin aja
Pagi-pagi, minggu-minggu, dingin-dingin aku ma Amin sudah ada di rumah bu EKD buat bimbingan. Walah dalah, bimbingannya, unit makna yang dah aku buat banyak yang salah. Uh, galau lah pokoknya. Adeeeeh, tapi bu EKD tetap ngasih semangat buat beraniin diri selesein skripsinya dan daftar. Kayaknya gak sesuai banget sama motivasi dan realita.
“Min, ke Gramedia dulu yuk menghalau kegalauan,” jalan-jalan ke Gramedia gak tau mau beli buku apa? Yang penting bagiku sih jalan-jalan aja liat-liat buku. Ketemu Apri juga yang lagi liburan di Semarang. Ketemulah aku sama buku “Revolusi Pedas Presiden Maicih”, Maicih lagi…tapi aku gak beli tu bukunya.

23 Juli 2012 – Antara ragu dan optimis
Setelah bimbingan kemarin, keraguan mulai muncul di hatiku. Antara ragu dan keyakinan sangat saling berlomba memenangkan hatiku. Aku tak berminat menyentuh skripsiku, padahal tinggal menghitung hari pendaftaran.
Aku memilih memuaskan diri dengan berjalan-jalan ke Gramedia Amaris, aku jadi penasaran sama buku Revolusi Pedas Presiden Maicih, aku suka salah satu kata-katanya

“Di luar keuntungan berupa uang, pengalaman, dan pembelajran yang saya dapatkan sangat besar. Nggak mudah menyerah, terus mencari peluang, kalau terbentur tembok lekas cari celah, dan yang paling penting : action, action, serta terus action.” (Reza Nurhilman AXL)

Akhirnya aku pun beli bukunya, aku sangat suka membaca kisah pengusaha-pengusaha usia belia, rasanya tu kaya, “Aduh, aku bisa gak ya?”
Second, aku  nemu buku yang menarik lain, bukunya Mas Agung Baskoro, Status Up date  for the best student. Aku sms Pur, “tau mas-mas botak yang dulu ngisi di seminar UNS? Dia nulis buku lho” ada kata-katanya yang juga menarik tentang skripsi

“SKRIPSI adalah ekspresi diri yang terwadahi dalam setumpuk kertas. Bila ia mampu diselesaikan, diri akan menjadi semakin baik dalam memahami tanggung jawab. SKRIPSI adalah soal Pribadi, BUKAN YANG LAIN. Jadi, hentikan “beternak” KAMBING HITAM.” (Agung Baskoro)

Akhirnya aku pun juga membeli bukunya juga.
Malamnya ngumpul sekalian makan bareng sama Mba Ganda, Indah, Pur, Ani (temennya Pur, ni bukan Ani yang di filmnya Rhoma Irama ya,hehe), Amin, ma Ediwan. Pikiranku masih kalut sehingga aku gak banyak ngomong, sama juga dengan Amin, sepertinya efek bimbingan kemarin masih membekas. Tapi, satu hal yang aku rasakan juga bahwa aku ingin bangkit sekali lagi. Aku tak bisa terus bersama kegalauan dan kegalauan lain di sekitarku.

24 Juli 2012 – Cemas
Cemas melandaku, aku takut banget gak bisa daftar sidang minggu depan. Sambil ngemut es krim  buat menghilangkan kecemasan. Aku sms ke siapapun yang aku percaya bisa menenangkan aku, termasuk mamah, hasilnya aku ditelpon, sampe nangis (hadeeh mayuuu, meski sering bercanda sama mamah, aku kadang bisa nangis juga kalo inget sama mamah, ayah, apalagi nenek) percakapanku bisa dilihat di postinganku beberapa waktu yang lalu.

25 Juli 2012 -  Aku butuh teman
Satu lagi temanku pulang ke kampung halamannya, yap Purwanti. Rumahnya bukan di sekitar Jawa, tetapi di Sulawesi nui. Yeap, temen yang sering ngajak diskusi, yang juga ngerepotin, plus partner dalam beberapa hal. Serasa gak ada temen buat diajak ngobol lagi. Hikz, sms terakhirnya “kamu udah ngerjain skripsi sampai sakit?” aku jawab, “kalau depresiku kambuh itu mungkin” mungkin itu sms terakhir. Dah Pur --/
Well, aku butuh teman, so komitmenku aku langgar, aku harus membuka akun facebookku lagi karena keterbutuhan psikologis. Entahlah, setiap malam perasaan cemasku sering muncul, ketika sudah sendirian di kamar kost. Hanya satu harapku, semoga esok datang lagi dan aku bisa bertemu dengan lebih banyak orang. Yang bisa cukup menghiburku saat ini cuman keiatan rutin selama ramadhan ini di al-azhar, yaitu nyiapin ta’jil sama parkir tarawih.

26 Juli 2012 – Melankoli Ramadhan
Melankoli ramadhan, sepertinya tepat kali ya untuk tema ramadhanku kali ini. Rasanya tu gimana gitu ramadhan kali ini, ada yang aneh, ada yang hilang, ada yang tak biasa daripada ramadhan sebelumnya (hahahay).
Aku mencoba memahami satu hal dari bimbingan minggu kemarin di rumah bu EKD, iya kalau aku gak digituin aku mungkin akan lebih salah lagi.
Malemnya smsan sama Dewi’07, mulai dari ngomongin kegalauan, sampe download file pake tongkat yang biasa buat ngunduh mangga. Dan satu lagi yang aku sadari adalah, aku selama ini mencoba mencari social support dari orang lain, dengan bertemu banyak orang. Aku pikir itu sangat penting.

27 Juli 2012 – Pasrah
 Pagi aku tiba-tiba kangen sama Amin ma Ediwan, hish hish…. Pengen wisuda bareng mereka. Milih sidang September aja biar bisa wisuda Januari bareng sama Ediwan ma Amin, kayaknya lebih asyik dan seru pikirku. Sekarang aku jauh lebih pasrah apakah aku bisa mengejar pendaftaran minggu depan atau tidak? Apapun itu pasti kehendak Allah, tapi aku tetap harus berjuang.
Pertimbangan lain juga ortu yang udah nuntut lulus, meskipun mamah nyante aja, ayah sepertinya dah galau mikirin anaknya yang satu dan memang satu-satunya belum lulus. Jadi aku akan terus berjuang.

28 Juli 2012 – butuh diyakinkan
Aku butuh diyakinkan lagi tentang keputusanku untuk bisa mendaftar skripsi minggu depan. Bu EKD sudah membuka peluang untukku mendaftar asal aku bisa menyelesaikan skripsiku. Aku pun jalan-jalan lagi sambil beli tinta print di plaza simpang 5.
Di saat membutuhkan teman, Ediwan sms menanyakan kegiatanku hari ini (hadeeeh CPD, kaya mentri aja). Kebetulan waktu itu aku lagi di Gramedia. Ya akhirnya kita ketemuan sampe ashar kita di Gramedia.
Tapi, masih sempet ngobrolin beberapa hal di Baiturahman,


29 Juli 2012 -  Gak murah
Buat nyelesein skripsi itu gak murah, butuh dana yang gak sedikit. Buat coping kegalauanku juga kadang gak murah, kadang buat jalan-jalan, beli buku, sampe beli makanan. Seperti hari ini, aku jalan-jalan lagi menikmati sepinya kota Semarang di hari minggu. Eh, ketika di kawasan mana ya? Pas lampu merah menyala, hapeku “Kok gak ada? Hadeuh jatuh nih” tiba-tiba saja hapeku itu jatuh dan tepat berada di bawah angkot yang untungnya ge berhenti.huhu Gak kebayang hapeku hilang atau kelindes ban angkot.

30 Juli 2012 – Mak Tek
Pendaftaran skripsi tinggal menunggu hari saja. Entahlah, aku hanya ingin berjuang hingga titik terakhir dalam proses ini, seperti janjiku dulu pada diriku sendiri. Meskipun gak jadi daftar paling gak, aku sudah bisa berjuang hingga sejauh ini. Meskipun masih bimbang antara mau berusaha atau tidak? Hari ini pun bimbingan dengan bu EKD, “Lha ini dah bener owg Mas” “Eh?” saat aku mengajukan BAB IV-ku. “Lha, kamu memang harus digituin, asal gak sakit hati aja” Baru aku sadar apa yang sebenarnya terjadi, itu cara bu EKD kasih shock therapy ke aku.
Ketika KRSan juga sama bu Ikong, “Lho masih KRSan tho?” hadeeeh iya sih dulu dah janji sama bu Ikong semester kemarin yang terakhir aku KRSan.
Meskipun begitu aku masih ada pembenaran untukku agak bisa mendaftar September. Yap, telepon ayah
Aku : Bisa sih tapi aku masih banyak yang salah
Ayah : Lha, kamu kuliah 6 tahun masa masih ada yang salah? SKRIPSI satu tahun masa masih ada yang salah?
Aku : *Jleb*
31 Juli 2012 – 2006
Salah satu motivasiku biar bisa buat daftar sidang minggu ini, adalah biar ada 2006 yang daftar sidang. Masa gak ada 2006 yang daftar? Alasan yang bodoh.heheh Anyway, 2006 dah semakin berkurang.
1 Agustus 2012 – Pemikiran bodoh
Setelah sahur menjelang subuh, ada sms masuk, ‘Kamu jadi daftar sidang bulan ini?’ sms dari Pur. Eh, dah lama sejak dia balik ke Palu sana gak pernah interaksi. “Masih aku usahakan” “Ada yang bisa aku bantu?”
Siangnya aku bimbingan lagi sama bu EKD, ketika lagi bimbingan, bu EKD ngomongin Amin, “Amin gimana? Kok gak pernah kelihatan? Gimana sih anak itu? bla bla bla” tiba-tiba orangnya nongol. “Kamu gimana? Dah tho dikerjain, dikejar,” “Iya Bu” aduh liat ekspresinya Amin,aku jadi gak tega.
“Kadang kepikiran buat daftar September jadi bisa wisuda bareng Ediwan ma Amin” smsku ke Pur, dan dibales “Pemikiran Bodoh” *Jleb*
2 Agustus 2012 – Try Try and Try
Hari terakhir sebelum pendaftaran besok jum’at. Bimbingan terakhir dengan bu EKD dan Pak Parno. Ngobrol sama Tika di lantai 2, berbagi rasa. Gak kerasa besok dah pendaftaran. Entahlah, tiba-tiba saja banyak orang yang mensupport, Tika yang bisa aku ajak cerita, Purwanti yang mau bantu edit BAB I – BAB II-ku, dan Zaldi yang mau nemenin aku nyetak draft skripsiku.
Selepas isya, aku memilih tidak tarawih dan langsung pulang untuk editing total draftku. Bagaimanapun aku berusaha, skripsiku tetap tidak akan sempurna. Yang terpenting saat ini adalah aku harus berusaha hingga titik terakhir.
Printerku agak ngambek, sehingga hasilnya jelek, untungnya cuman lampiran. Setengah 10 malem Zaldi datang, Yep perang akan dimulai.xoxoxoxo
Tepat di fotocopy Andalas Bulusan dan ditemenin Zaldhi aku ngeprint dengan mesin fotocopy ato print laser. Hoahahah lebit cepet dari printerku. Satu setengah jam ngeprint dan baru terkagum, “Ternyata skripsiku tu setebel ini ya?”
3 Agustus 2012 – Semua bisa terjadi
“Dah dilijid?” Sms Pur di pagi jum’at, “Udah ge nunggu nanti setengah 10, gak papa kan cuman pake lakban?” “Iy gpp, Indah gak bisa daftar” “Lho kenapa?” “Gak tau, gak dibales” Semua bisa terjadi di titik terakhir ini. Kurang tidur dan lain sebagainya tak membuatku ngantuk hari ini. Masih harus jilid dan burning CD di mas Mul. Mas Ikhwan juga masih ngeprint, padahal jam 11 nanti pendaftaran ditutup.  Masih sempet nyuci juga aku, menunggu jilidan draftku jadi jam setengah 10 pagi.
Jam 10 pagi setelah mengambil draft, akhirnya langkahku menapaki kampus dengan membawa satu kardus berisi 4 draft skripsi yang hanya disatukan dengan lakban. Hadeeuh berat juga. Yeah langkah-langkah kemengangan menuju mas Nur, Biro skripsi (Lebay ah).
“Mas, ni aku daftar,hehe” kataku ke Mas Nur
“Ngisi ini dulu Mas”
“Lho baru 12 orang tho yang daftar?”
Alhamdulillah, akhirnya dah daftar. Tapi, tau gak? Kalau dinamika keselurhanku tuh belum jadi. “Dulu aku bilang ke Mas Nur buat ditempel hari seninnya” sms Pur, “Aku dah bilang bu EKD, gak boleh, katanya sidang aja” “Kamu kejujuran banget sih?” “Ya sudah lah”
Siangnya ngobrol sama bu EKD di ruang umum. Menemani Handung, mas Komting 2006 yang ge berjuang dengan skripsinya juga. Ada Zaldi juga, “Pokoknya ta cariin dosen penguji yang bisa bikin Zaldi pingsan,hahaha” ledek bu EKD, “Jangan Bu” kata Zaldi dengan wajah memelas. Seruangan pun tertawa. Puas rasanya…
“Apa harapanmu buat dosen penguji?” sms Pur, “Gak ada, gak mikirin itu, siapa aja gak masalah” Yep,tahap ini dah selesai. Sorenya pertama kali aku beli Keripik Maicih. Yap, janjiku kalau bisa daftar sidang, aku akan beli Maicih.
“Zal, aku beli ini, mau nyoba?” kataku ketika menjaga parkiran tarawih di masjid al-azhar
“Apa ini Mas?” Tanya Zaldhi, “Maicih”kataku
“Whoaaa, pedes Mas”kata Zaldhi, “Hahahaha” aku pun tertawa. “Tapi, enak Mas, lagi mas” Yap, aku mulai bisa tertawa puas lagi, Alhamdulillah



__________________________________________
 Udah dzuhur, aku bergegas langsung ke masjid sampai kunci lokerku ketinggal. "MasyaAlloh, kunciku." Segera aku berbalik lagi ke kampus padahal langkahku tinggal berapa meter lagi ke masjid. Aku berpapasan dengan pak Subandi, pembimbing tesisku.
"Gimana udah ketemu pak Fatur dan pak Helly?" Tanya Pak Bandi.
"Rencanya hari ini sama pak Helly tapi beliau belum ada kabar."
"Oh ya sudah nanti ta liat dulu,"
"Kapan, Pak?"
"Habis dzuhur."
"Nggih Pak."
Aku bergegas kembali ke lantai 3 gedung A untuk mengambil kunciku dan Alhamdulillah masih di menggantung di loker nomer 22. "Kok bisa lupa sih?"
Setelah sholat dzuhur, aku buka hapeku dan dapat sms dari pak Helly, "Wah sorry, sy sdh di dapur" "Ke sini saja
'Piye Mas? Tadi aku ketemu pak Helly." Kata Zaldi.
"Di mana?"
"Di bawah tangga."
"Blaishke, aku harus ketemu dua dosen di waktu yang sama, pak Helly dulu aja insyaAlloh."

Pak Helly sedang duduk-duduk di dapur gedung G, merokok dan meminum teh bersama dengan pak Hadi beserta karyawan kampus lainnya. 
"Sini ta tanda tangani aja."
"Lho nggak diliat dulu aja, Pak?"
"Gak usah." Ya seperti itulah pak Helly, friendly tapi tetep aku penasaran untuk mendapatkan komentar dari beliau tentang tesisku di waktu yang lain.
Setelah itu aku ketemu pak Bandi, pembimbingku.
"Tadi udah ketemu pak Helly, Pak."
"Sudah?"
"Nggih Pak."
"Terus gimana?"
"Nggak ada komentar dari beliau."
"Lho, kamu udah ujian tho?"
"Udah Pak."
"Hoho ta kiro mau kompre.."
*hadeeeh 

Jumat, 05 Februari 2016

Kondangan

"Widiiih, panjang banget ya antriannya? Kaya nikahannya artis aja." Kataku ke Ediwan di depanku.
"Yo jenenge anake wong sugih, Cal." Kata Ediwan yang kemudian kami "khusyuk" dalam antrian.
"Eh, Bu, tau nggak sih biasanya kalau resepsi kaya gini ada lho yang pake batik modal amplop kosong," Kata ibu-ibu di belakangku.
"Eh iya Bu, biasanya sih gitu." Jawab ibu-ibu satunya.
*keselek* Aku liat diriku sendiri, pake batik, celana kain, sepatu sandal, di sakuku ada amplop. Aku liat ke Ediwan dan teman-teman cowok lain yang antri di depanku. Pakai batik, penampilannya rapi-rapi. 
"Ed Ed..." colekku ke Ediwan
"Nopo?"
"Ibu-ibu di belakangku ngomongin kita ya?"
"Ngomongi opo?"
"Kata ibunya, ne resepsi kek gini biasanya ada cowok-cowok klimis modal batik ma amplop kosong." Kataku berbisik.
"Blaishke..."

Hehe yap itulah salah satu kisahku dan teman-teman ketika kondangan ke teman yang menikah. Waktu itu teman angkatan kami yang memang anak pengusaha terkenal di kota Semarang atau bahkan di Jawa Tengah, jadi wajar kalau resepsiannya segede gaban bak nikahannya artis Bollywood. haha lebay.
Kondangan, kondangan, kondangan... Yeah, itu kegiatan menyenangkan bagiku (pada mulanya), bukan karena ketemu ama teman yang lagi merayakan kebehagiaannya, tapi di resepsi pernikahan teman, kita bisa reunian. Iyalah, apalagi setelah udah lama nggak kuliah bareng, udah sibuk sendiri-sendiri sama urusannya masing-masing. Selain bisa makan-makan enak, kita bisa foto bareng, apalagi kalau misalnya dipanggil, "Selanjutnya yang akan foto bersama Psikologi Undip angkatan 2006" Wuiiih, udah panggung sampe penuh.
Sejujurnya, moment paling buat merinding dangdut itu bukan di resepsinya, tapi kalau kita datang ke akad nikahnya. Nah itu paling bikin gemeteran. Aku bayangin gimana rasanya si mempelai laki-laki menyalami wali perempuan bukan untuk beradu panco, "Hayyo, kalau kamu bisa menang, kamu dapat anakku." Nggak... nggak kaya gitu!!! Tapi kalimat "Qobiltu nikaahahaa wa tazwiijahaa bil mahril madz-kuur haalan." mmm itu sepupuku sih pas waktu nikahan pake bahasa Arab,  atau ""Saya terima nikah dan kawinya fulanah binti fulan dengan mahar sebuah mushaf Alquran dan perlengkapan Sholat secara tunai."  yang diucapkan oleh seorang laki-laki itu berasa beralihlah tanggung jawab si bapak yang telah membesarkannya dengan susah payah kepada seorang laki-laki yang tidak begitu dikenalnya yang sedang (mungkin) riang gembira dapat anaknya. Entahlah mungkin realitanya seperti itu atau gak segitunya, wallohu'alam.
Aku pernah bilang ke beberapa teman, "Dulu pas waktu kecil, kita kondangannya ketika teman ada yang sunatan, sekarang kondangannya klo ada yang nikahan. Waktu udah lama ya berubah?" Bayangin aja, dulu sunatan teman, aku sama teman-teman lain datang bawa amplop habis itu minum-minum (air teh ya bukan minum cucu capi), klo udah selese kita dikasih berkat buat dibawa pulang. Sekarang, bawa amplop, makan di tempat, habis itu dikasih souvenir.
Semakin ke sini, teman-temanku yang datang ke kondangan teman udah mulai berkurang bahkan kadang hampir nggak ada yang datang. Dulu tingkat ke populer di kampus dapat menjadi indikator yang akan menentukan banyaknya teman-teman yang datang. Namun, sekarang nggak berlaku. Ada aja alasannya, "Aduh, maap jauh, semoga barakah ya." "Aduh, aku udah punya baby, belum bisa diajak ke mana-mana." "Aduh, bumi mau hancur, maap aku gak bisa dateng." (Yang terakhir nggaklah). 
Akhirnya yang datang cuma kadonya aja. Syukur kalau ada yang ngado rumah, tapi nggak mungkin kan (ya mungkin-mungkin aja sih), lha kado favorit itu di antaranya bedcover, seperangkat tupperware, buku-buku tentang membangun rumah tangga, dan sebagainya, bahkan ada tuh teman-temanku yang ngasih kado isinya semangka dipakein celana dalam yang bertuliskan "Jomblo Expired." hadeeeh Klo aku sih biasanya agak iseng dikit kalau dapat tugas beliin isi kado, isinya : gantungan kuncu/hape couple, kain batik, buku atau VCD islami, atau klo bareng teman biasanya lebih aneh lagi, beli lilin romantis, hehe Padahal esensinya bukan di kado, tetapi do'anya itu. Orang nikah, itu kan sepanjang usia, kalau kado atau uang kan bisa habis, tetapi do'a itu akan menyertai seumur hidup. Makanya do'ain yang baik-baik soalnya, do'a kita ke orang lain pada dasarnya mendo'akan diri sendiri. Meskipun gitu gak papa juga sih kalau mau ngasih kado atau uang.hehe
Semakin ke sini, aku juga semakin males datang ke nikahan teman. Bukan karena jauh dekatnya, tapi berhubung aku kuliah di Psikologi yang jumlah cowoknya kaya kesebelasan karambol jadi nggak PD aja datang ke nikahannya teman (terutama yang cewek). Tau ndirilah, cewek-cewek klo dah ngumpul pada ngrumpi, dan pada akhirnya yang cowok tersisihkan berlumut di pojok halaman. haha lebay. Makanya klo ada teman nikahan, aku akan tanya, "Ada teman cowok yang mau datang nggak?" Perlu digaris bawahi, PENTING!!! Aku bukan homo. Jadi nggak mungkin aku datang ke nikahan teman terus nggandeng mesra seorang teman cowok, "Eh, kenalin nih pasangan aku namanya, Hamzah." Naudzubillah Ada atau tidaknya teman cowok yang datang ke nikahannya teman, paling tidak akan menghindarkan aku dari ketersisihan.haha Maklumlah, aku kan belum punya pasangan, jadi masa datang sendirian di nikahannya teman, meranalah hidupku nanti, hahaha lebay ah.
Mungkin bagi sebagian orang yang masih single terus datang ke kondangannya teman itu menghindari ditanya, "Kamu kapan nikah?" "Kapan nyusul?" Ini hampir sama kaya dulu pas waktu masih kecil ditanya, "Ayo kapan sunat?" "Teman-temanmu dah pada sunat lho, masa nggak berani?" Haaaaah..... Awal-awalnya sih defence aja nanggepi "ujian dadakan" gitu. Masa setiap datang ke resepsian harus jawab pertanyaan, "Kapan nikah?" "Kapan nyusul?" Dulu biasanya cuma bisa ketawa klo ditanyain gitu, sekarang agak lebih bijaksana, "Ya do'akan sajalah." hehe Iya serius, didoa'in, jangan cuma "kapan nikah?" kapan nyusul?" Mending dido'ain, "Ya semoga kamu segera nikah ya... Semoga segera nyusul ya, aamiin" Nah kan enak? Pertanyaan di kala kondangan pun semakin berevolusi. Kemarin-kemarin nih pas waktu datang ke nikahannya teman SD, ada temanku yang bilang, "Kapan? Aku udah punya anak lho." Ya ya ... hahaha mau gimana? Akan ada waktunya sendiri-sendiri, insyaAlloh. 
Sejenak aku membaca lagi buku-buku tentang pernikahan, ternyata nikah itu gak segampang, gak seenak yang aku kira. Kalau bahasanya Raditya Dika, ada perpindahan peran. Ya menikah itu perpindahan peran dari satu peran ke peran lain. Kaya ikan Salmon yang melawan arus dan tinggi aliran air untuk bermigrasi. Masalahnya kadang kita yang belum pada nikah ternyata hanya merasa nyaman ada di bawah, padahal "makanan" itu banyak di atas. Buat ke atas, ikan Salmon harus melawan arus, diburu beruang, atau nyangkut di batu. Nggak mudah, butuh persiapan untuk naik ke atas. 
Mereka yang sudah pada nikah, aku salut udah berhasil melawan arus dan naik ke atas. Aku mungkin masih merasa belum siap, atau masih terlalu nyaman di zonaku sekarang. Masih terlalu malas untuk naik ke atas. Atau mungkin masih berharap akan ada "orang" yang baik hati untuk memindahkan aku dari sungai bawah ke atas tanpa aku bersusah payah, tapi si "orang" itu bisa aja bukannya memindahkan aku tetapi membawaku pulang untuk kemudian disantap, hehe. jadi mungkin akunya yang perlu berupaya lebih keras lagi. Mungkin juga akunya yang masih "sombong" juga pilah-pilih rezeki Alloh, mungkin aku perlu belajar rendah diri. Ya do'ain aja deh, semoga aku pun bisa menyusul buat "cari makan" di atas ya. aamiin

Buat teman-teman yang dalam waktu dekat ini pada nikah, atau ketika baca blog ini udah nikah, "Barakallahu laka wa baraka 'alaika wa jama'a bainakuma fii khair"



Senin, 25 Januari 2016

Tak Seperti Dulu

"Mau sampai kapan kamu di Jakarta, Ed?" Tanyaku ke Ediwan.

Semuanya sudah banyak berubah, sejak kami lulus dari S1. Aku kuliah S2 di UGM sama nyambi-nyambi ngajar, Ediwan menjadi seorang staf di biro Psikologi Jakarta, Amin berkeluarga dan hidup di Sumatera, dan Agung berkeluarga dan bekerja di sebuah perusahaan makanan di Ungaran. Rasanya sudah lama kami tak berjumpa bersama. Peran dan setiap cerita telah mengubah banyak hal dari kami. Aku sadar bahwa waktu telah berjalan cukup lama di belakang kami dan di belakangku.
Pertemuanku dengan Ediwan sabtu siang itu di Rumah Sakit Karyadi Semarang memberi arti tersendiri. Sepertinya di tanggal yang sama di tahun kemarin, kami sempat bertemu di Jogja, saat ketika aku dalam puncak kegalauanku. 
"Tau nggak sih?" Kataku ke Ediwan, " Ketika orang-orang pada jalan-jalan di mall, di Simpang Lima, kenapa kita malah jalan-jalan di Rumah Sakit Ed????"
"Lha, mbuh owg koe?"
"Hadeeeh, emang Semarang nggak ada tempat lain kah?"
Iya, kenapa kami malah jalan-jalan di Rumah Sakit ya? Bersama Ediwan atau kadang dengan lainnya, kami sudah pernah berkunjung ke beberapa tempat yang sejatinya bukan buat jalan-jalan tetapi oleh kami seperti kaya tempat wisata. Pernah kami jalan-jalan dari satu stasiun ke stasiun lain di dalam kota Semarang (https://www.youtube.com/watch?v=Edz0FD0qyo8), pernah juga cuma lewat kawasan prostitusi, pasar hewan, atau sekedar wisata kuliner yang tempatnya aneh-aneh. Dan sekarang, di sinilah kami, di Rumah Sakit.
"Tau nggak Ed, yang dirawat di situ siapa aja?" Kataku sambil nunjuk sebuah ruangan bertuliskan 'Kedokteran Nuklir'.
"Sopo Sal?"
"Wolverine, X-Men, Iron Man, dkk."
"Matamu..."
"Hehehe... lho nuklir owg."
"hahaha"
"Tapi rumah sakit ini udah banyak yang berubah ya?"
"Emang koe pernah mlebu?"
"Belum, hehe"
"Wooo... Nang bagian jantung yuk Sal,"
"Ngopo lho?"
"Wis, ayoo."

Perjalanan kami terhenti di sebuah kantin kecil di tengah-tengah rumah sakit untuk makan siang.  
"Piye ngajarmu?"
"Oh, menyenangkan ..."
"Setiap hari apa tho koe lek ngajar?"
"Aku minta senin aja, biar selebihnya aku masih bisa balik ke Jogja. Aku tidak mau jadi dosen tetap di sana..."
"Lho nopo?"
"Gak papa, cuma pengin keluar dari rumah aja."
"Koe ki, ketika yang lain pada bingung nggolei gawean, koe malah nolak."
"Lagian Bapakku juga nyuruh aku gitu kok."
"Terus tesismu piye?"
"Kemarin habis Seminar Hasil, ya agak shock sih, aku terlalu terburu-buru jadi banyak kritikan. Tapi aku ya sudah bingung, Ed, mau aku apakan lagi tesisku?"
"Wah, cerdas koe Sal..."
"Lha piye? Aku buntu owg."

Sejenak kami hening dalam makan siang kami. Beberapa mas-mas berseragam jas putih datang dan loncat-loncat, nggak, mereka jalan kaki kok, hehe 
"Mau sampai kapan kamu di Jakarta, Ed?" Tanyaku ke Ediwan.
 " .... " Matanya menghindari tatapanku, "Belum tau, Cal"
"Nggak pengin balik Semarang?"
"Pengin sih, tapi ono gak tempat kerja sing iso bayar aku setara koyo nang Jakarta?"
"Gak tau..."
"Sepurmu jam piro?"
"Jam 14.00 soko Poncol."
"Iki jam piro? Sejam neh."
"Ya udah yuk."
"Motormu nandi?"
"Aku gak bawa motor, aku kan ke Semarang pake bus, makane aku minta dirimu bawa helm."
"Wooo, ta kiro. yo wis ayo,"

Ediwan mengantarku ke stasiun Poncol. Setalah lari-lari kecil aku akhirnya bisa mengejar kereta api Tawang Jaya yang 5 menit lagi akan berangkat.
"Udah di kereta Ed, makasie ya, maap ngerepotke." smsku ke Ediwan.
"Yo gpp"

Waktu sudah berjalan maju meninggalkan banyak cerita di belakang. Aku pun telah banyak belajar untuk bertumbuh. Melihat tulisan-tulisanku di blog ini, rasa-rasanya aku bukan seorang mahasiswa S1 lagi seperti dulu. Kegalauanku bukan lagi persoalan skripsi atau cari kerja, tetapi lebih dari itu semua dan jauh lebih filosofis, *mudeng gak??? hmmm ya sudah* Kata temanku, ketika SMA ujian yang paling kita takuti adalah ujian matematika, tapi setelah dewasa ujian yang kita takuti adalah ujian kesendirian. ya ya ....
Beberapa hari lalu aku membuka blog  ini lagi dan membaca-bacanya. Rasanya kaya mengunjungi rumah lama yang sudah tidak aku tempati. Jadi, musti bersih-bersih, ngusir kecoa terbang, memburu roh-roh jahat, menumpas kejahatan, membela kebenaran, #lho... Rasanya pengin nulis di blog ini lagi, cerita tentang dunia yang sejauh ini telah banyak berubah. Aku tanggalkan kegalauanku yang dulu dan mencoba belajar berpijak pada sesuatu yang lebih bermakna. *MasyaAlloh bahasane...*
Coba lihat tulisanku yang lalu, semuanya bercerita tentang haha hihinya masa kuliah. Sayangnya kuliah S2 itu berbeda, kita harus lebih mandiri dan dewasa dibandingkan S1. Dulu teman-teman izin gak ikut ngerjain tugas karena ada acara organisasi, atau males, tetapi di S2 mereka izin gak ikut garap tugas karena jagain anaknya, ada pekerjaan di kantor, dan sebagainya. Semua ini juga akan berubah, kawan, tinggal kitanya aja yang mau ikut berubah atau tetap dengan kita yang lama. Pilihannya tinggal kita mau berubah jadi Ultraman, Ksatria Baja Hitam, Power Ranger, atau Super Siaya? hehe bukan itu... Perubahan itu juga ada dua, menjadi lebih baik atau lebih buruk? *Waar biasaaa bahasanya* *Ta timpuk pake bakyak ntar lu.*
Ini pun setelah, Alhamdulillah, aku ujian tesis. Cekikin sendiri baca tulisanku dulu. "MasyaAlloh, aku kok malu-maluin ya dulu?" hehe But, aku juga gak tega buat hapus ini blog, biarlah jadi prasasti, halah. Mungkin kalau blog ini dijadiin sebuah film, mungkin aku pengin menjadikan sekuel kedua. hehe 






Sabtu, 19 Oktober 2013

Terasa Aneh

Hidup pasca lulus dari S1 itu, bagiku aneh. Entah kenapa???? Rasanya hampa, mungkin karena aku merasa tak mencapai mimpi-mimpiku, atau ada sesuatu yang salah? tapi semuanya begitu aneh, lebih tepatnya hampa. Kadang kangen sama masa lalu, tapi aku sadar kalo aku sebenarnya belum bisa menerima perubahan ini. Ingin cerita banyak, tapi gak tau ke siapa? Coz, temen-temen dulu S1 dah gak pada di sini lagi, menemukan teman baru? Ah, entahlah aku belum menemukan sebuah kehidupan.

(Bergalau ria dengan lagu-lagu Sheila on 7)

Minggu, 22 September 2013

Kost Seru GT5 (Gondang Timur 5)

"Mas," Sapa seorang pemuda yang sedang membonceng temannya, ketika aku sedang menunggu antrian bensin di Pom Bensin UNDIP-Tembalang. Rasanya aku kenal, tapi aku agak lupa. Ah, iya, aku tau, Tyo, temen kostku dulu, dan si pengendara motor adalah Pendi.
"Hai, apa kabar?" Sambil menyalami Tyo dan Pendi.
"Baik, Mas, sekarang di mana Mas?" Tanya Tyo
"Apanya?"
"Kostnya?"
"Oh, ada dua, di Semarang sama di Jogja,"
"Di Semarang di mana?" Tanya Tyo dengan ekspresi yang agak datar, masih sama seperti dulu, ahaha..
"Di Ngesrep, ini dari mana?"
"Dari ngisi bensin, mau pulang, mau nonton sepak bola," Mereka pun kembali ke sepeda motor mereka, hendak pergi.
"Aku pengin main ke sana,"
"Mainlah," Suara Tyo yang kali ini terlihat girang.
"Iya nanti ya,"

Semenjak S1 di Universitas Diponegoro, aku kost di jl.Gondang Timur II No.5 Bulusan - Tembalang (Wuih masih apal nih aku). Tepatnya kost di rumah ibu Wakiyah dan bapak (aduh aku lupa nih, nama bapak kost, parah!!!). Entah, bagaimana mahasiswa bisa menemukan kost terpencil yang agak jauh dari kampus ini? Tapi nasib mempertemukan kami di sini.
Aku sendiri dicarikan Pakdheku, yang memang dosen di UNDIP. Melalui mahasiswanya, ditemukanlah kost ini. Masuk ke kost ini, aku sendirian sebagai mahasiswa baru, meskipun kemudian ada Danis dan Bagus yang menjadi kawanku kemudian sebagai junior. Awal mula kost di sini pun, aku lebih sering mengurung diri, malu. Tapi, mas Adi dari Jakarta, yang ngeledek aku, "Sini dong, masa di dalam terus? Ngobrol," Kata dia sambil mengepul rokoknya, sejak saat itu aku perlahan berani keluar dari kamarku.
Aku bangaa bagi teman-temanku yang bisa nemuin kostku, hanya bermodal alamat formal yang aku kasih, hanya satu dua orang saja, selebihnya tersasar entah ke mana? Makanya kadang kalo pada mau ke kostku, ta minta nunggu di mana, ntar aku jemput. Soalnya tempatnya di antara belantara gitu deh, (Gak)
Waktu itu juga ada seniorku di Psikologi, itulah salah satu yang membuat aku menerima untuk kost di sini, namanya mas Nasrul, asli Jepara, angkatan 2005, meskipun menjelang lulus atau semasa skripsi, dia lebih memilih untuk melaju antara Semarang dan Jepara. Ada juga mas Beni asli Lombok, meskipun orangnya kadang suka aneh-anehan (misalnya mencoba bunuh diri karena liat temen ceweknya sama temen cowoknya) tapi dia orang yang baik hati, semasa aku belum punya laptop, dia meminjamkannya ke aku. tapi si galau itu kini udah nikah dan punya anak, Saya kapan ya --a.
Ada juga mas Riqi, biar muka garang tapi sukanya guyon. Ada mas Kacang, mas Chiko, Mas Diar, Mas Aldino, mas Dwi, mas Vidi, sape lagi ya? ya itu mereka awal-awal aku ada di situ. Generasi selanjutnya, selalu berganti wajah, dan orang, yang pastiny tambah seru. Terakhir aku tinggalin, ada Dipo yang berbedan gede, tapi berhati romantis (ahihihi), Gunawan (si Omku nih yang agak culun gituh, tapi rasa ingin taunya gede banget), ada Tyo ma si pendekar Tohar, Lingga (yang kadang telat nyambungnya kalo guyon), Wahyu (yaaaaaang .....), Indra (si junior), Bang ALi, Adi, Ucup, Bang Eko, Bang Mesum (Bang Adi), Bang (sape tuh sebelah kamarku yang suka mengeluarkan suara-suara anehnya di saat galau, hihi Bang Indra). Dan banyak sekali nama yang pernah menjadi penghuni kost GT5, sebutan kami untuk kost kami tercinta Gondang Timur 5.
Banyak hal seru yang kami rasakan selama kost di sini, pertama yang jelas adalah si bu kost, bu Wakiyah. Sebagai jenderal di kost ini, bu kost itu orangnya cerewet. Terutama pada anak kost yang telat bayar, suka nyimpen cewek di kost, atau yang gak nurut ama bu kost. Layaknya seorang ibu kost, maka bu Wakiyah emang hobi "ceramah" kalo ada anak kostnya yang mbandel. Biasanya pagi-pagi tuh bu kost akan "kuliah subuh". Tapi bu kost itu orangnya baik, suka ngasih jajan, makanan buat anak kost. Dan itulah yang mempersatukan kami semua (hahahaha).
Kami hobi makan bareng di kost, terutama kalo ada yang ulang tahun, ada yang mau selamtean apa gitu, musim idul adha, atau apalah gitu, yang jelas adat makan-makan kost itu wajib. Dulu anak kost GT5 lebih suka makan bareng di warung mana gitu, tapi sekarang lebih suka makan bareng di kost. kedua adalah futsalan, ini aku no comment, coz gak pernah ikut, hiihihi Ama kadang klo ge musim kemarau, kita harus iriiiiiiit banget make air, sampe dulu aku pernah cerita di blog ini gila-gilaan gak mandi.
Tapi, bagaimanapun menderitanya kami di kost GT5, entah bagaimana ceritanya masih sajaaa ada yang yang bertahan. dan jujur, aku kangen pengin ke sana lagi. hehehe Rasanya hampa aku di sini, kost baruku lebih nyaman sih tapi, gak serame GT5 persatuannya. GudLak ya Mas Bro, semoga lulus semua gak ada yang di-DO, aamiin