Berjuta
galau yang telah aku rasakan, rasanya sudah satu tahun aku melewati
masa-masa suram dalam hidupku. Kadang rasanya ingin bebas, ingin
terbang, ingin teriak, dan lain sebagainya berjuta rasa nano-nano yang
aku rasakan. Satu tahun sudah sejak tahun lalu aku mulai menulis
kegalauanku di blog in tentang SKRIPSI, PNS, hingga PMS, dan
tulisan-tulisan absurdku yang gak jelas, mulai dari masalah kelangkaan
air di kost, ke kampus gak mandi, sampe berjuta hal bodoh yan aku telah
lakukan. Semuanya-semuanya begitu menakjubkan.
Mungkin sudah
banyak rasa yang aku rasakan hingga pada titik ini, senang, sedih,
marah, kesal dan semuanya terangkum dalam satu kata, yaitu galau. Ada
beberapa orang temenku (yaiyalah orang masa cacing?) yang menolak
kegalauan itu, “ah gak, aku gak galau kok” ato “bang bawangnya berapa?”
(oh maap yang teakhir tu gak nyambung,hehe). But, aku mencoba menerima
aja kegalauan itu, jika kemudian aku identik dengan cowok galau karena
skripsi, ya biar saja.
Dalam rentang waktu itu juga, aku sudah
banyak mendapatkan petuah-petuah bijak dari ayah., mamah, teman, dosen,
sampe ibu-ibu yang anaknya minta dinikahin (halah, bo’ong ding,hehe).
Sepertinya
lama aja kegalauanku itu, mungkin kalau dalam bahasa psiklogi
kesehatan, galauku itu sudah kronis kali ya? Entah aku pun bingung,
sebenarnya apa yang aku tunggu untuk segera menyelesaikan skripsiku?
Kadang aku menyalahkan mood karena tak kunjung juga membaik. Ada dosen
yang menyarankanku untuk menikah dulu aja, but itu tak mungkin.
28 Juni 2012 – Ketika menunggu kesempurnaan
Kadang
aku berharap menunggu segala sesuatunya sempurna, mungkin itu yang
sebenarnya aku tunggu. Tetapi, ketika diajak oleh Amin, untuk bertemu
dengan subyeknya di RS dr.Soeharso, pada tanggal 28 Juni 2012, aku
tersadar dengan sebuah tulisan di rumah sakit tersebut,
“
Yang bikin masalah adalah orang-orang yang selalu menunggu segala sesuatunya sempurna” (Lee Lacocca)
Aku
gak kenal siapa itu Lee Lacocca itu? apa hubungannya dengan coca cola?
Apakah juga ada hubungannya dengan salah satu merek celana jeans? Atau
apalah? Tetapi kata-katanya itu menyadarkanku untuk tidak lagi menunggu
kesempurnaan, terima saja, lakukan saja, jalani saja.
15 Juli 2012 – 2 kegalauan dan ribuan senyum
Kaya
judul bukunya pak Dahlan Iskan ya? Tapi sayang itu bukan kata-kata dari
seorang menteri BUMN, melainkan dari mahasiswa galau yang belum
lulus-lulus juga kuliahnya. Hadeeeh. Mencoba menata diriku kembali dari
segala kekacauan dalam hidupku. Termasuk aku ingin menutup akun FB
sementara, karena banyak pemicu galau di sana, gak kuat liat foto-foto
narsis saat wisuda, dsb.
16 Juli 2012 – Berjuang hingga di titik terakhir
Akhir-akhir
kemarin aku luar biasa galau, hingga terkadang tidur larut malam, entah
ada sesuatu yang tidak bisa membuatku merasa nyaman untuk tidur.
Pikiran ini terus ingin memikirkan sesuatu tetapi aku pun tak faham
dengan pikiranku sendiri. Beberapa temanku juga semakin menguatkan
kegalauanku, seperti Amin dan Ediwan. Hari itu Ediwan di kostku, dan
menjelang sore aku tinggal sebentar ke kampus karena aku harus mengurusi
rencana keberangkatanku ke Jakarta untuk presentasi ilmiah.
Hingga
hari itu, aku, mas Mul, dan Karim yang berencana berangkat nanti
malamnya belum ada kejelasan, padahal kami harus ada d Jakarta besok
pagi. Keterbatasan dana yang menjadi masalah, sedangkan PD III juga
belum bisa membantu, sehingga akhirnya kami mengurungkan niat untuk
pergi. Tetapi, masih tetap ada perasaan lega karena ada kejelasan
tentang keberangkatan kami. Sejujurnya aku hanya ingin menghindar dari
wisuda yang besok akan diselenggarakan oleh univeristas, dan lusa yang
akan diselenggarakan oleh fakultas.
Setibanya di kost, dengan
wajah yang sangat lusuh, aku duduk di kursi kostku tercinta. Sedangkan
Ediwan sedang bermain games dengan handphoneku. Rasanya nyaman sekali
bersandar di sebuah kursi, tapi “BRUAAAK” salah satu kaki kursiku patah
dan aku pun terjatuh. “Piye tho koe Cal?” kata Ediwan, sementara aku
sedang berusaha kerasa untuk berdiri lagi sambil tertawa. Mayuuu, bahkan
kursiku pun tidak kuat Manahan kegalauanku.
17 Juli 2012 – Menghindar
Wisuda
127, aku lebih memilih jalan lain, berusaha untuk tidak melewati area
tempat wisuda Universitas diadakan. Rasanya aku gak kuat menahan berjuta
kebahagiaan, sedangkan kegalauanku masih tertanam dalam diriku.
Aku
mencoba menghibur diri dengan mengerjakan skripsi, haha ternyata dalam
kekalutan seperti itu aku pun memiliki katarsis untuk mengerjakan
skripsi. 2 minggu lagi pendaftaran skripsi akan dibuka. Aku putuskan
untuk berjuang hingga di titik terakhir. So, aku pun meminjam lapy ke
Zaldi kalo aku di kampus.
Oya, ditemenin ma Amin, aku beli kursi kost baru lho… xaaxaxa
18 Juli 2012 – ke manakah kau?
Aku
berusaha banyak menghibur diri dengan sering ke kampus, bertemu dengan
banyak orang. Menyapa, bercengkrama, dan bilang,“Senang rasanya masih
bisa lihat 2006 di kampus” ke Handung, (mas komting 2006 yang lagi
berusaha untuk juga segera lulus, semangat Mas ^^/).
Ucapan Zaldi,
“Ayo Mas 12 hari lagi” menyadarkanku kalau waktu pendafataran semakin
dekat. Dan aku masih berkutat di BAB IV. Jadi teringat kata-katanya
Purwanti menjelang sidang, “Yuk, bertahan lebih lama dan bekerja keras”
19 juli 2012 – Fokus dan tahan banting
Aku
sms tentang pejabat birokrasi kampus yang berkeliling kampus
mengucapkan selamat ramadhan ke temen-temen, baik yang masih ada sudah
lulus. Beberapa membalas, dan mungkin Apri yang paling berkesan, karena
memberikan petuah bijaknya, “Fokus dan tahan banting” meskipun dalam
bayanganku, kok aku jadi inget sesuatu ya dengan kalimat itu? apa ya?
Aku menyadari satu hal, bahwa
yang membuatku belum atau terlalu lambat untuk melangkah adalah karena ketakutanku sendiri untuk salah. Padahal memang proses ini kita harus merasakan salah.
20 Juli 2012 – Skripsi itu WOW
Beberapa
orang sudah berpuasa, tapi aku makan keripik pedas berdua sama
Purwanti, yang dikasih petugas perpustakaan, sambil bahas unit makna
skripsiku. “Kamu pernah makan Maicih?” “Belum, kenapa?” “Gak kemaren aku
habis beli” gak penting banget sih. Tapi keripik yang kita makan emang
enak sih, sebelumnya bayanganku Maicih tu kaya keripik singkong yang
berlumuran cabe seperti dulu pernah dibawain sama mamah. Ternyata
bayanganku sepertinya salah.
21 Juli 2012 – diskusi diskusi
Jujur
kekalutanku akhir-akhir ini, membuatku merasa belum memiliki rencana
penting buat ramadhan so Puasa hari pertama, setelah sholat subuh aku
tertidur, padahal aku sudah menset weker jam 05.45 untuk bangun dan
mulai mengerjakan skripsi, tapi mata ini gak bisa diajak kompromi buat
bangun. Akhirnya aku paksa aja bangun, keluar kamar, pergi ke kamar
mandi, dan ngapain coba? NGURAS KAMAR BAK MANDI, apaan coba??? Kaya
ngelindur aja bangun tidur langsung nguras bak mandi.
Tembalang
sudah mulai sepi karena bertepatan dengan liburan semester. Aku
cari-cari pulsa pagi aja belum ada counter yang buka, kalah sama toko
roti yang dah buka di pagi hari. Haha.. But yang paling menyenangkan
adalah hari ini bisa diskusi bareng ma bu Anita di rumahnya Nani, aku,
Zaldi, Ediwan, sama Amin. Paling tidak aku bisa ngerjain skripsi hari
itu, dan tanya-tanya tentang kualitatif ke bu Anita.
22 Juli 2012 - Beraniin aja
Pagi-pagi,
minggu-minggu, dingin-dingin aku ma Amin sudah ada di rumah bu EKD buat
bimbingan. Walah dalah, bimbingannya, unit makna yang dah aku buat
banyak yang salah. Uh, galau lah pokoknya. Adeeeeh, tapi bu EKD tetap
ngasih semangat buat beraniin diri selesein skripsinya dan daftar.
Kayaknya gak sesuai banget sama motivasi dan realita.
“Min, ke
Gramedia dulu yuk menghalau kegalauan,” jalan-jalan ke Gramedia gak tau
mau beli buku apa? Yang penting bagiku sih jalan-jalan aja liat-liat
buku. Ketemu Apri juga yang lagi liburan di Semarang. Ketemulah aku sama
buku “Revolusi Pedas Presiden Maicih”, Maicih lagi…tapi aku gak beli tu
bukunya.
23 Juli 2012 – Antara ragu dan optimis
Setelah
bimbingan kemarin, keraguan mulai muncul di hatiku. Antara ragu dan
keyakinan sangat saling berlomba memenangkan hatiku. Aku tak berminat
menyentuh skripsiku, padahal tinggal menghitung hari pendaftaran.
Aku
memilih memuaskan diri dengan berjalan-jalan ke Gramedia Amaris, aku
jadi penasaran sama buku Revolusi Pedas Presiden Maicih, aku suka salah
satu kata-katanya
“Di luar keuntungan berupa
uang, pengalaman, dan pembelajran yang saya dapatkan sangat besar. Nggak
mudah menyerah, terus mencari peluang, kalau terbentur tembok lekas
cari celah, dan yang paling penting : action, action, serta terus
action.” (Reza Nurhilman AXL)
Akhirnya aku pun
beli bukunya, aku sangat suka membaca kisah pengusaha-pengusaha usia
belia, rasanya tu kaya, “Aduh, aku bisa gak ya?”
Second, aku nemu
buku yang menarik lain, bukunya Mas Agung Baskoro, Status Up date for
the best student. Aku sms Pur, “tau mas-mas botak yang dulu ngisi di
seminar UNS? Dia nulis buku lho” ada kata-katanya yang juga menarik
tentang skripsi
“SKRIPSI adalah ekspresi diri
yang terwadahi dalam setumpuk kertas. Bila ia mampu diselesaikan, diri
akan menjadi semakin baik dalam memahami tanggung jawab. SKRIPSI adalah
soal Pribadi, BUKAN YANG LAIN. Jadi, hentikan “beternak” KAMBING HITAM.”
(Agung Baskoro)
Akhirnya aku pun juga membeli bukunya juga.
Malamnya
ngumpul sekalian makan bareng sama Mba Ganda, Indah, Pur, Ani (temennya
Pur, ni bukan Ani yang di filmnya Rhoma Irama ya,hehe), Amin, ma
Ediwan. Pikiranku masih kalut sehingga aku gak banyak ngomong, sama juga
dengan Amin, sepertinya efek bimbingan kemarin masih membekas. Tapi,
satu hal yang aku rasakan juga bahwa aku ingin bangkit sekali lagi. Aku
tak bisa terus bersama kegalauan dan kegalauan lain di sekitarku.
24 Juli 2012 – Cemas
Cemas
melandaku, aku takut banget gak bisa daftar sidang minggu depan. Sambil
ngemut es krim buat menghilangkan kecemasan. Aku sms ke siapapun yang
aku percaya bisa menenangkan aku, termasuk mamah, hasilnya aku ditelpon,
sampe nangis (hadeeh mayuuu, meski sering bercanda sama mamah, aku
kadang bisa nangis juga kalo inget sama mamah, ayah, apalagi nenek)
percakapanku bisa dilihat di postinganku beberapa waktu yang lalu.
25 Juli 2012 - Aku butuh teman
Satu
lagi temanku pulang ke kampung halamannya, yap Purwanti. Rumahnya bukan
di sekitar Jawa, tetapi di Sulawesi nui. Yeap, temen yang sering ngajak
diskusi, yang juga ngerepotin, plus partner dalam beberapa hal. Serasa
gak ada temen buat diajak ngobol lagi. Hikz, sms terakhirnya “kamu udah
ngerjain skripsi sampai sakit?” aku jawab, “kalau depresiku kambuh itu
mungkin” mungkin itu sms terakhir. Dah Pur --/
Well, aku butuh
teman, so komitmenku aku langgar, aku harus membuka akun facebookku lagi
karena keterbutuhan psikologis. Entahlah, setiap malam perasaan cemasku
sering muncul, ketika sudah sendirian di kamar kost. Hanya satu
harapku, semoga esok datang lagi dan aku bisa bertemu dengan lebih
banyak orang. Yang bisa cukup menghiburku saat ini cuman keiatan rutin
selama ramadhan ini di al-azhar, yaitu nyiapin ta’jil sama parkir
tarawih.
26 Juli 2012 – Melankoli Ramadhan
Melankoli
ramadhan, sepertinya tepat kali ya untuk tema ramadhanku kali ini.
Rasanya tu gimana gitu ramadhan kali ini, ada yang aneh, ada yang
hilang, ada yang tak biasa daripada ramadhan sebelumnya (hahahay).
Aku
mencoba memahami satu hal dari bimbingan minggu kemarin di rumah bu
EKD, iya kalau aku gak digituin aku mungkin akan lebih salah lagi.
Malemnya
smsan sama Dewi’07, mulai dari ngomongin kegalauan, sampe download file
pake tongkat yang biasa buat ngunduh mangga. Dan satu lagi yang aku
sadari adalah, aku selama ini mencoba mencari
social support dari orang lain, dengan bertemu banyak orang. Aku pikir itu sangat penting.
27 Juli 2012 – Pasrah
Pagi
aku tiba-tiba kangen sama Amin ma Ediwan, hish hish…. Pengen wisuda
bareng mereka. Milih sidang September aja biar bisa wisuda Januari
bareng sama Ediwan ma Amin, kayaknya lebih asyik dan seru pikirku.
Sekarang aku jauh lebih pasrah apakah aku bisa mengejar pendaftaran
minggu depan atau tidak? Apapun itu pasti kehendak Allah, tapi aku tetap
harus berjuang.
Pertimbangan lain juga ortu yang udah nuntut
lulus, meskipun mamah nyante aja, ayah sepertinya dah galau mikirin
anaknya yang satu dan memang satu-satunya belum lulus. Jadi aku akan
terus berjuang.
28 Juli 2012 – butuh diyakinkan
Aku
butuh diyakinkan lagi tentang keputusanku untuk bisa mendaftar skripsi
minggu depan. Bu EKD sudah membuka peluang untukku mendaftar asal aku
bisa menyelesaikan skripsiku. Aku pun jalan-jalan lagi sambil beli tinta
print di plaza simpang 5.
Di saat membutuhkan teman, Ediwan sms
menanyakan kegiatanku hari ini (hadeeeh CPD, kaya mentri aja). Kebetulan
waktu itu aku lagi di Gramedia. Ya akhirnya kita ketemuan sampe ashar
kita di Gramedia.
Tapi, masih sempet ngobrolin beberapa hal di Baiturahman,
29 Juli 2012 - Gak murah
Buat nyelesein skripsi itu
gak murah, butuh dana yang gak sedikit. Buat coping kegalauanku juga kadang gak
murah, kadang buat jalan-jalan, beli buku, sampe beli makanan. Seperti hari
ini, aku jalan-jalan lagi menikmati sepinya kota Semarang di hari minggu. Eh,
ketika di kawasan mana ya? Pas lampu merah menyala, hapeku “Kok gak ada? Hadeuh
jatuh nih” tiba-tiba saja hapeku itu jatuh dan tepat berada di bawah angkot
yang untungnya ge berhenti.huhu Gak kebayang hapeku hilang atau kelindes ban
angkot.
30 Juli 2012 – Mak Tek
Pendaftaran skripsi tinggal
menunggu hari saja. Entahlah, aku hanya ingin berjuang hingga titik terakhir
dalam proses ini, seperti janjiku dulu pada diriku sendiri. Meskipun gak jadi
daftar paling gak, aku sudah bisa berjuang hingga sejauh ini. Meskipun masih
bimbang antara mau berusaha atau tidak? Hari ini pun bimbingan dengan bu EKD,
“Lha ini dah bener owg Mas” “Eh?” saat aku mengajukan BAB IV-ku. “Lha, kamu
memang harus digituin, asal gak sakit hati aja” Baru aku sadar apa yang
sebenarnya terjadi, itu cara bu EKD kasih shock therapy ke aku.
Ketika KRSan juga sama bu
Ikong, “Lho masih KRSan tho?” hadeeeh iya sih dulu dah janji sama bu Ikong
semester kemarin yang terakhir aku KRSan.
Meskipun begitu aku masih
ada pembenaran untukku agak bisa mendaftar September. Yap, telepon ayah
Aku : Bisa sih tapi aku
masih banyak yang salah
Ayah : Lha, kamu kuliah 6
tahun masa masih ada yang salah? SKRIPSI satu tahun masa masih ada yang salah?
Aku : *Jleb*
31 Juli 2012 – 2006
Salah satu motivasiku biar
bisa buat daftar sidang minggu ini, adalah biar ada 2006 yang daftar sidang.
Masa gak ada 2006 yang daftar? Alasan yang bodoh.heheh Anyway, 2006 dah semakin
berkurang.
1 Agustus 2012 – Pemikiran bodoh
Setelah sahur menjelang
subuh, ada sms masuk, ‘Kamu jadi daftar sidang bulan ini?’ sms dari Pur. Eh,
dah lama sejak dia balik ke Palu sana gak pernah interaksi. “Masih aku
usahakan” “Ada yang bisa aku bantu?”
Siangnya aku bimbingan lagi
sama bu EKD, ketika lagi bimbingan, bu EKD ngomongin Amin, “Amin gimana? Kok
gak pernah kelihatan? Gimana sih anak itu? bla bla bla” tiba-tiba orangnya
nongol. “Kamu gimana? Dah tho dikerjain, dikejar,” “Iya Bu” aduh liat
ekspresinya Amin,aku jadi gak tega.
“Kadang kepikiran buat
daftar September jadi bisa wisuda bareng Ediwan ma Amin” smsku ke Pur, dan
dibales “Pemikiran Bodoh” *Jleb*
2 Agustus 2012 – Try Try and Try
Hari terakhir sebelum
pendaftaran besok jum’at. Bimbingan terakhir dengan bu EKD dan Pak Parno.
Ngobrol sama Tika di lantai 2, berbagi rasa. Gak kerasa besok dah pendaftaran.
Entahlah, tiba-tiba saja banyak orang yang mensupport, Tika yang bisa aku ajak
cerita, Purwanti yang mau bantu edit BAB I – BAB II-ku, dan Zaldi yang mau
nemenin aku nyetak draft skripsiku.
Selepas isya, aku memilih
tidak tarawih dan langsung pulang untuk editing total draftku. Bagaimanapun aku
berusaha, skripsiku tetap tidak akan sempurna. Yang terpenting saat ini adalah
aku harus berusaha hingga titik terakhir.
Printerku agak ngambek,
sehingga hasilnya jelek, untungnya cuman lampiran. Setengah 10 malem Zaldi
datang, Yep perang akan dimulai.xoxoxoxo
Tepat di fotocopy Andalas
Bulusan dan ditemenin Zaldhi aku ngeprint dengan mesin fotocopy ato print
laser. Hoahahah lebit cepet dari printerku. Satu setengah jam ngeprint dan baru
terkagum, “Ternyata skripsiku tu setebel ini ya?”
3 Agustus 2012 – Semua bisa terjadi
“Dah dilijid?” Sms Pur di
pagi jum’at, “Udah ge nunggu nanti setengah 10, gak papa kan cuman pake
lakban?” “Iy gpp, Indah gak bisa daftar” “Lho kenapa?” “Gak tau, gak dibales”
Semua bisa terjadi di titik terakhir ini. Kurang tidur dan lain sebagainya tak
membuatku ngantuk hari ini. Masih harus jilid dan burning CD di mas Mul. Mas
Ikhwan juga masih ngeprint, padahal jam 11 nanti pendaftaran ditutup. Masih sempet nyuci juga aku, menunggu jilidan
draftku jadi jam setengah 10 pagi.
Jam 10 pagi setelah
mengambil draft, akhirnya langkahku menapaki kampus dengan membawa satu kardus
berisi 4 draft skripsi yang hanya disatukan dengan lakban. Hadeeuh berat juga.
Yeah langkah-langkah kemengangan menuju mas Nur, Biro skripsi (Lebay ah).
“Mas, ni aku daftar,hehe”
kataku ke Mas Nur
“Ngisi ini dulu Mas”
“Lho baru 12 orang tho yang
daftar?”
Alhamdulillah, akhirnya dah
daftar. Tapi, tau gak? Kalau dinamika keselurhanku tuh belum jadi. “Dulu aku
bilang ke Mas Nur buat ditempel hari seninnya” sms Pur, “Aku dah bilang bu EKD,
gak boleh, katanya sidang aja” “Kamu kejujuran banget sih?” “Ya sudah lah”
Siangnya ngobrol sama bu EKD
di ruang umum. Menemani Handung, mas Komting 2006 yang ge berjuang dengan
skripsinya juga. Ada Zaldi juga, “Pokoknya ta cariin dosen penguji yang bisa
bikin Zaldi pingsan,hahaha” ledek bu EKD, “Jangan Bu” kata Zaldi dengan wajah
memelas. Seruangan pun tertawa. Puas rasanya…
“Apa harapanmu buat dosen
penguji?” sms Pur, “Gak ada, gak mikirin itu, siapa aja gak masalah” Yep,tahap
ini dah selesai. Sorenya pertama kali aku beli Keripik Maicih. Yap, janjiku
kalau bisa daftar sidang, aku akan beli Maicih.
“Zal, aku beli ini, mau
nyoba?” kataku ketika menjaga parkiran tarawih di masjid al-azhar
“Apa ini Mas?” Tanya Zaldhi,
“Maicih”kataku
“Whoaaa,
pedes Mas”kata Zaldhi, “Hahahaha” aku pun tertawa. “Tapi, enak Mas, lagi mas”
Yap, aku mulai bisa tertawa puas lagi, Alhamdulillah
__________________________________________
Udah
dzuhur, aku bergegas langsung ke masjid sampai kunci lokerku ketinggal.
"MasyaAlloh, kunciku." Segera aku berbalik lagi ke kampus padahal
langkahku tinggal berapa meter lagi ke masjid. Aku berpapasan dengan pak
Subandi, pembimbing tesisku.
"Gimana udah ketemu pak Fatur dan pak Helly?" Tanya Pak Bandi.
"Rencanya hari ini sama pak Helly tapi beliau belum ada kabar."
"Oh ya sudah nanti ta liat dulu,"
"Kapan, Pak?"
"Habis dzuhur."
"Nggih Pak."
Aku
bergegas kembali ke lantai 3 gedung A untuk mengambil kunciku dan
Alhamdulillah masih di menggantung di loker nomer 22. "Kok bisa lupa
sih?"
Setelah sholat dzuhur, aku buka hapeku dan dapat sms dari pak Helly, "Wah sorry, sy sdh di dapur" "Ke sini saja"
'Piye Mas? Tadi aku ketemu pak Helly." Kata Zaldi.
"Di mana?"
"Di bawah tangga."
"Blaishke, aku harus ketemu dua dosen di waktu yang sama, pak Helly dulu aja insyaAlloh."
Pak
Helly sedang duduk-duduk di dapur gedung G, merokok dan meminum teh
bersama dengan pak Hadi beserta karyawan kampus lainnya.
"Sini ta tanda tangani aja."
"Lho nggak diliat dulu aja, Pak?"
"Gak usah." Ya seperti itulah pak Helly, friendly tapi tetep aku penasaran untuk mendapatkan komentar dari beliau tentang tesisku di waktu yang lain.
Setelah itu aku ketemu pak Bandi, pembimbingku.
"Tadi udah ketemu pak Helly, Pak."
"Sudah?"
"Nggih Pak."
"Terus gimana?"
"Nggak ada komentar dari beliau."
"Lho, kamu udah ujian tho?"
"Udah Pak."
"Hoho ta kiro mau kompre.."
*hadeeeh