Jogja, Januari 2016 "Ed ..." "Hm..." "Aku udah capek bermimpi lagi," Kataku sambil memandangi ketika kami duduk di pinggir jalan Pringgokusuman menatapi kali Code yang mulai berubah warna menjadi orange, menunggu waktu maghrib tiba. "Kenapa, Sal?" Tanya Ediwan ... " Entahlah aku ingin apa sekarang?" "Kita harus tetep punya mimpi, Sal ..." "Gitu ya?" jawabku malas. hening sejenak ..... "Sal, janji ya..." Kata Ediwan "Apa?" "Janji, kita nggak akan melupakan saat-saat seperti ini..." "Kenapa?" "Mungkin nanti ketika kita masing-masing sudah berumah tangga, kayaknya saat-saat seperti ini akan jarang." "hehe ya udah keluar bareng aja sama istri masing-masing." "Ne gelem." Tapi ... iya, masa-masa kebersamaan dengan sahabat-sahabat tercinta setelah lulus S1 rasa-rasanya menjadi sangat mahal. Keterpisahan kami dengan jarak dan ...
" Jika kita memang seorang master, berperilakulah sebagai seorang master.” (Duddy Fachrudin) Kata-kata dari mas Duddy, temanku yang kuliah di mapro, di bukunya 10 Pesan Tersembunyi & 1 Wasiat Terakhir itu sering membuatku berpikir, "Iya juga ya, cara menyikapi tesis S2 dan skripsi S1 seharusnya berbeda." Namanya juga master, guru, masa nyikapi tugas akhirnya segalau S1 dulu? Lucu kan? Seharusnya kan agak dewasa dikit, bukan malahan makan daun di depan masjid, nyari kamar mandi, atau hal-hal gila lainnya. Haha jujur aku agak kesulitan nulis segila dulu sekarang. "Gimana ya ngelucunya?" Aku tau, mungkin tesisku terlalu sederhana, bahkan terlalu tipis untuk ukuran sebuah penelitian kualitatif. Namun, bagiku bukan itu yang terpenting. Aku bersyukur telah belajar banyak selama proses tesis ini. Dibimbing (oleh pak Subandi) dan diuji (oleh pak Faturochman dan pak Helly) oleh orang-orang hebat. Aku belajar banyak hal tentang hal-hal akademis dari ...