Langsung ke konten utama

Sepenggal Cerita Tentang Tesisku



"Jika kita memang seorang master, berperilakulah sebagai seorang master.”
(Duddy Fachrudin)



Kata-kata dari mas Duddy, temanku yang kuliah di mapro, di bukunya 10 Pesan Tersembunyi & 1 Wasiat Terakhir itu sering membuatku berpikir, "Iya juga ya, cara menyikapi tesis S2 dan skripsi S1 seharusnya berbeda." Namanya juga master, guru, masa nyikapi tugas akhirnya segalau S1 dulu? Lucu kan? Seharusnya kan agak dewasa dikit, bukan malahan makan daun di depan masjid, nyari kamar mandi, atau hal-hal gila lainnya. Haha jujur aku agak kesulitan nulis segila dulu sekarang. "Gimana ya ngelucunya?"
Aku tau, mungkin tesisku terlalu sederhana, bahkan terlalu tipis untuk ukuran sebuah penelitian kualitatif. Namun, bagiku bukan itu yang terpenting. Aku bersyukur telah belajar banyak selama proses tesis ini. Dibimbing (oleh pak Subandi) dan diuji (oleh pak Faturochman dan pak Helly) oleh orang-orang hebat. Aku belajar banyak hal tentang hal-hal akademis dari mereka, tetapi aku pun belajar sangat banyak bagaimana harus bersikap dewasa. Kalau kata mas Duddy bahwa seorang master seharusnya pun bersikap seperti seorang master.
Segala rasa sakit hati, patah hati, kecewa, cemas, marah, kesal, tetapi juga senang, pasrah, bangga, dan lain sebagainya mengiringi setiap proses tesisku yang hampir setahun ini aku kerjakan. Aku katakan, “Tesisku biasa saja, tetapi cerita di sekitar pembuatannya yang bagiku luar biasa.” Kenapa? Karena aku pun bertransformasi menjadi individu yang lebih baik dalam menyikapi segala sesuatu. Aku pun bertransformasi menjadi lebih sehat secara psikologis, dengan meninggalkan perilaku-perilaku negatifku dulu, mencoba lebih mengendalikan nafsu-nafsuku. Aku pun bersyukur semua itu ada, Alhamdulillah.
Aku mungkin terlalu terburu-buru dengan tesisku, bukan karena sudah bosan di kampus, tetapi aku memang begitulah tuntutannya. Selain itu, aku ingin membantu teman-temanku, ya masa aku mau bantu mereka tapi aku sendiri keteteran? Ya kadang harus ada yang berkorban di depan untuk menunjukan jalan keluar. Ibaratnya aku dan teman-temanku sedang ada di hutan belantara, masing-masing kami sulit untuk mulai bergerak karena tak pernah yakin, karena menganggap ini sulit. Aku memilih berkorban demi Tuhan untuk mereka, meskipun harus tertancap duri, diserang hewan ganas, dan sebagainya. Seperti itulah rasanya, ya dikomentari tesisku, bahkan merasa bodoh dengan tak mengetahui hal-hal mendasar dari tesis itu sendiri.
“Apa itu tesis?” Tanya pak Fatur pada suatu ketika di ruangannya.
“Nggak tau Pak.” Jawabku sambil menggelengkan kepala.
“Nggak tau? Wah Parah.”
Mungkin jika waktunya lebih lama lagi, aku merasa bisa membuatnya jadi lebih baik, tapi ya apa iya seperti itu?
Aku pun belajar untuk lebih spiritual dalam melihat berbagai macam hal. Meskipun kadang nafsu ini sering berontak ketika dihadapkan pada hal-hal yang tidak nyaman. Namun, di situlah imanku terasa diuji. Ingin marah pada Tuhan rasanya, tapi kalau mau dipikir-pikir bisa saja segala kesulitanku memang cara-Nya agar aku tak terjebak dalam bahaya yang lebih besar. Ibaratnya ketika aku tersesat di hutan belantara dan meyakini bahwa jalanku sudah benar, tetapi tiba-tiba ada sesuatu yang mengubah jalanku. Mungkin aku berpikir, “Ah, sudah susah-susah buat jalan malah ada pohon jatuh,” atau “Sudah jauh-jauh malah ketemu singa tidur.” Padahal bisa jadi jalanku itu ada perangkap atau berujung di jurang. Tuhan lebih tau yang terbaik buat hamba-Nya.
Kadang pun aku suka mengeluh, “Kenapa kok salah terus?” Namun, Alloh mengingatkan aku melalui temanku, “Kamu enak ya udah semhas, aku belum.” Iya, aku ini kurang bersyukur ya? Di sisi lain, selalu saja ada hambatannya, seperti gagal ketemu dosbinglah, masih salahlah, atau apapun, padahal udah narget tanggal-tanggal sekian harus selesai ini itu. Ya aku ini kurang sabar ternyata. Aku sadari, tesisku tak se-WAH skripsiku dulu yang tampaknya gampang saja, tapi dari sini aku belajar pula banyak hal. Ingat master harus bersikap sebagai seorang master. 
Aku belajar untuk memotivasi diriku sendiri. Jika dulu waktu skripsi, aku kadang masih bergantung pada orang lain. Berharap ada teman lain yang iba, mau membantu, dan sebagainya, sekarang? Aku cuma berharap iba dan bantuan-Nya Alloh SWT ala ajah. Karena itu pula, aku memanfaatkan kerusakan smartphone-ku dengan tidak membuka terlebih dahulu WA, Line yang bisa mengalihkan fokusku. Mendekatkan diri melalui ibadah itu pasti, tetapi ada hal-hal lain juga yang musti dilakukan, yaitu bantu juga teman-teman yang lain. Minimal memotivasi mereka. Kadang juga berdiskusi atau menanyakan kabar. Hehehe Aku berharap Alloh pun akan menolongku jika aku menolong mereka. Namun, tetap saja akhirnya balik ke diri sendiri, kalau bahasanya temanku dulu, menolong diri sendiri.
Bayangin aja, laptopku rusak, dia kalau ta bawa ke Jogja  jadi error, tapi kalau ta bawa ke rumah, sehat dia? Apa ada medan magnetnya ya di Jogja? Segita Bermuda mungkin yang narik Superman naik dokar. Hehe Belum lagi ketika aku belajar ngajar di Universitas swasta Brebes. Hampir setiap minggu harus bolak-balik Jogja – Brebes, semester sebelumnya bolak-balik Semarang – Jogja sampai kena banjir di jalan akibat sungai-sungai yang meluap. Ah, rasa-rasanya begitu luar biasa. Namun, kadang perjuanganku belum apa-apanya dibandingkan teman-temanku yang lain. Mereka ada yang sampai dimarah-marahin dobingnya, hujan-hujanan demi bimbingan di rumah habis itu ditolak. Luar biasa tesis itu.
Rasa-rasanya tesis ini menjadi begitu spesial karena berbagai macam cerita yang terjadi. Namun, secara keseluruhan, aku puas dengan tahun 2015 ini, Alhamdulillah dengan berbagai macam keajaiban yang Alloh berikan. Mungkin iya aku harus sendiri, mungkin iya aku harus mendapat banyak komentar, mungkin iya aku harus merasakan banyak perasaan negatif sekaligus positif, tapi itu bagian dari pembelajaran untuk bersikap lebih bijak terhadap segala sesuatunya. Oleh karena itu, biarlah tesis ini aku persembahkan untuk Alloh SWT yang telah membimbingku sejauh ini, juga untuk kedua orang tuaku, guru-guruku, teman-temanku, dan semua yang terlibat dalam cerita ini. Terima kasih, semoga Alloh SWT membalas dengan berlipat-lipat kebaikan dan keberkahan, aamiin.

Seharusnya publish di 22 Februari 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

AKHIRNYA PUNYA FOTO KELUARGA JUGAAAAAA!!!

Akhirnya Wisuda jugaaaaaa!!!!!   Meskipun sempet miskom sama Ayah, yang berakibat gak datangnya orang tuaku ketika wisuda di Universitas. TT juga. Berangkat sendirian, celingak and celinguk sendirian, sementara yang lain pada didampingi. Padahal ayah pengen banget liat aku pake Toga. Fiiiiuuh… Tapi sudahlah, cukup ada fotonya, kata Ayah. Tapi, mereka datang juga malam sekitar jam 8nan, dengan peristiwa tersasarnya rombongan ayah dan mamah entah ke mana? Tapi akhirnya datang juga mereka di kostku. Dan makan-makan besar bareng anak-anak kost. ^^b Yang terpenting bagiku di moment wisudaku (terutama di Fakultas) adalah ALHAMDULILLAH, AKHIRNYA AKU PUNYA FOTO KELUARGA JUGA, YATTA!!!! Liat teman-teman pada punya foto keluarga, kadang buatku iri.huhuhu Biasanya tu kalo aku foto sama ayah terus mamah yang motoin, kalo foto ma mamah, ayah yang motoin. Teknologi zaman dulu belum canggeh meen. Yeap, inilah keluarga kecilku (Cuma aku, ayah, dan mamah). Mungkin ini beberapa hal yang pe...

Kucing Kampus

Entah, kabar dari kecoa mana? Tiba-tiba banyak yang bilang ke aku, klo aku sekarang beda kaya aku yang dulu. Aku yang sekarang pada bilang aku gak jelaslah, aku GJ-lah (oh sama ya?), aku sotoy lah, bahkan ada yang bilang aku stress. Beda banget kaya aku yang dulu, klo aku yang dulu lebih sopan, alim, suka nunduk-nudnuk kaya onta, pokoknya sosok laki-laki idaman lah. Sekarang? Wuiiih, percaya atau nggak, sekarang aku lebih gila men. Alias gila beneran. Terus aku berpikir, emangnya aku kenapa ya? Segera aku teringat tentang diagnosaku ketika masih nyantri di RSJ di daerah Jawa Timur. Di situ hasil tes menunjukan bahwa aku terindikasi DEPRESI. Hmmm, mungkin ini dia masalahnya. Ternyata waktu dua minggu belum cukup untuk memulihkan kondisi kejiwaanku. Sehingga masih bisa kumat sekarang. Obatku mulai jarang aku minum. Mungkin aku perlu kontrol lagi barangkali ada peningkatan dari depresi mengarah kepada skizofrenia. Hal ini tidak lah aneh karena  akhir-akhir ini aku sering memilik...

PsikoSeks : Gila-Gilaan liatin PSK

Skali lagi aku gak pernah ambil ni mata kuliah? Tapi aku rasa aku ingin berbicara tentang pembicaraan yang menarik ini. Seks, kebutuhan biologis manusia untuk melanjutkan keturunan dan spesiesnya. Jangan sampe spesies manusia punah sehingga tahun 3000 nanti bumi ini akan dihuni oleh para sinpanse. Mulai dari sinpanse yang jadi Polisi, jadi Presiden, hingga jadi psikolog. Kacau ... Yap, sore ini seperti biasa aku melakukan kegiatan rutinku, yaitu Bengong. Kali ini yang menjadi tempat bengongku adalah MAJT atau Masjid Agung Jawa Tengah. Masjid yang luas ini sering menjadi tempat tujuan utama bagi mereka-mereka para mahasiswa yang sudah diwisuda. Aku gak ngerti kenapa? Pasti klo abis wisuda banyak teman-temanku atau senior-seniorku yang foto-foto ma keluarganya di sini? Mungkin karena juga masuknya murah klo pake kendaraan, yaitu motor roda dua cukup Rp 500,- Setelah maghrib tercetuslah insting liarku untuk melewati para PSK (Pekerja Seks Komersial) di sepanjang jalan antara stasiun ...