Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2016

Sepenggal Cerita Tentang Tesisku

" Jika kita memang seorang master, berperilakulah sebagai seorang master.” (Duddy Fachrudin) Kata-kata dari mas Duddy, temanku yang kuliah di mapro, di bukunya 10 Pesan Tersembunyi & 1 Wasiat Terakhir itu sering membuatku berpikir, "Iya juga ya, cara menyikapi tesis S2 dan skripsi S1 seharusnya berbeda." Namanya juga master, guru, masa nyikapi tugas akhirnya segalau S1 dulu? Lucu kan? Seharusnya kan agak dewasa dikit, bukan malahan makan daun di depan masjid, nyari kamar mandi, atau hal-hal gila lainnya. Haha jujur aku agak kesulitan nulis segila dulu sekarang. "Gimana ya ngelucunya?" Aku tau, mungkin tesisku terlalu sederhana, bahkan terlalu tipis untuk ukuran sebuah penelitian kualitatif. Namun, bagiku bukan itu yang terpenting. Aku bersyukur telah belajar banyak selama proses tesis ini. Dibimbing (oleh pak Subandi) dan diuji (oleh pak Faturochman dan pak Helly) oleh orang-orang hebat. Aku belajar banyak hal tentang hal-hal akademis dari ...

Nostalgia Skripsi Di Kala Tesis

Pukul 09.45 WIB aku sudah duduk di salah satu bangku kantin Fakultas Psikologi UGM. Memainkan smartphone-ku dan sesekali membuka handphoneku, memeriksa sms yang mungkin masuk. Rasa bosan mulai terasa, tengkukku pun mulai pegal, ditambah perutku sudah main musik jazz (udah gak zaman lagi nyanyi keroncong di perut, jazz-lah sekali-kali, iya gak?). Rencanya mau ketemu dengan penguji tesisku, pak Helly. Beliau memang lebih suka berada di luar ruangannya daripada di ruangannya (mubeeeng). Depanku mas-mas bergaya ala traveller yang sedang mengepulkan asap laknat (baca : merokok). Aku janji ketemuan sama pak Helly untuk menyerahkan revisi tesisku pasca ujian tesis. Beliau bilang ketemuan di tempat biasa antara pukul 10.00 dan 13.00. Aku selalu ingat kata-kata mba Pipit, seniorku di Psikologi Undip, bahwa lebih baik nunggu lama sekarang daripada nunggu lagi besok. Ya belum tentu besok kita bisa ketemu dosen. Jadi, aku sabar-sabarin aja nunggu sampai bosan. Beneran aku pun di p...

Kondangan

"Widiiih, panjang banget ya antriannya? Kaya nikahannya artis aja." Kataku ke Ediwan di depanku. "Yo jenenge anake wong sugih, Cal." Kata Ediwan yang kemudian kami "khusyuk" dalam antrian. "Eh, Bu, tau nggak sih biasanya kalau resepsi kaya gini ada lho yang pake batik modal amplop kosong," Kata ibu-ibu di belakangku. "Eh iya Bu, biasanya sih gitu." Jawab ibu-ibu satunya. *keselek* Aku liat diriku sendiri, pake batik, celana kain, sepatu sandal, di sakuku ada amplop. Aku liat ke Ediwan dan teman-teman cowok lain yang antri di depanku. Pakai batik, penampilannya rapi-rapi.  "Ed Ed..." colekku ke Ediwan "Nopo?" "Ibu-ibu di belakangku ngomongin kita ya?" "Ngomongi opo?" "Kata ibunya, ne resepsi kek gini biasanya ada cowok-cowok klimis modal batik ma amplop kosong." Kataku berbisik. "Blaishke..." Hehe yap itulah salah satu kisahku dan teman-teman ketika kond...