Langsung ke konten utama

Ragu

Sebuah catatan galauku pagi hari
Setelah bimbingan ke dosbing kemarin, dan banyak diberikan masukan sana-sini aku justru mulai galau lagi. Aku se,akin bingung mencari dan bagaimana harus ku apakan skripsiku ini? dan bagaimana aku harus memperbaiki yang telah salah.
Optimis yang kemarin-kemarin serasa berkibar sekarang entah mulai pudar lagi. Mulai muncul keraguan untuk melangkah lagi. Aku bingung dari mana keraguan itu muncul? Dari keyakinan yang terjatuhkankah? dari sesuatu yang mengecewakankah? atau dari manakah? Mungkin episode seperti ini sering muncul dalam episode manusia lain. Dan saat ini aku masih bingung bagaimana harus melangkah kembali?
hampir beberapa jam aku tak bisa beranjak dari tempat tidurku, terus berpikir. Apalagi setelah membaca sms dari seorang teman, "kontraknya kayaknya gak saklek" Mungkin aku tau maksudnya ingin mengurangi rasa ketertekananku terhadap kontrak skripsi dari biro. Tapi aku merasa bahwa beban psikologisku lebih berat.
Aku belum tau apa yang akan aku lakukan lagi. Mungkin aku harus mundur dari keyakinanku sendiri? Mengalah dari realita?

Bahkan Punggung ini butuh Tempat untuk Bersandar
Beberapa hari yang lalu, kuris kostku patah, karena mungkin tidak kuat lagi menyangga kegalauanku. Bahkan kursiku pun sudah tidak mampu lagi menopang kegalauanku hihihi tepatnya ketika aku pulang dengan wajah agak kusut dari kampus karena banyak hal yang aku pikirkan, salah satunya tentang ketidak jadianku untuk presentasi makalah bersama beberpa temanku ke Jakarta, dengan alasan dana dan transportasi.
Sepulang di kost, Ediwan yang memang sedari tadi ada di kostku menunggu cukup lama hingga dia bisa menyelesaikan membaca dua halaman buku psikologi sosial. Mantaaap^^b AKu duduk di kursi kostku sambil bersandar, rasanya aku pengin teriak aja. Dan GUBRAAAAG!!! Aku terjatuh dari kursiku karena salah satu kaki kursinya patah. “Kowe ngopo tho Cal?” aku belum bisa menjawabnya karena aku sendiri sedang berusaha untuk berdiri, sambil tertawa.
“Napa tho kok wajahmu tu kusut banget?” Tanya Ediwan sambil memainkan game yang ada di handphoneku. Aku pun mulai bercerita tentang kejadian yang aku alami tadi di kampus. Di satu sisi muncul kelegaan karena aku sudah bisa mengerjakan skripsi, tetapi di sisi lain aku harus menghadapi kenyataan bahwa aku tidak bisa menghindar dari wisuda 127 yang bisa bikin potensi kegalauanku bertambah kronis.
Besk sorenya 17 Juli 2012, bersama Amin, aku membeli kursi yang hampir sejenis dengan warna yang sama di daerah Banyumanik. Hmmm cukup jauh juga ya? Beda bentuk tapi warna sama. Dan entahlah kursi ini Alhamdulillah-nya lebih nyaman dari kursiku yang lama. Sangat nyaman untuk menyandarkan punggung ini yang mulai terasa berat menahan tubuhku.
Akhir-akhir ini aku sering banget menyandarkan punggung ketika sesauatu yang aku hadapi sudah terasa buntu, berat, atau menggalaukan.hehe entah ke tembok, kursi, pintu, pohon, ke kaki gajah, ke tiang listrik, pokoknya kalau ada yang berpotensial buat aku sandaran aku akan bersandar.hehe gak bangetz.
Kadang punggung ini butuh untuk bersandar, ketika merasa sudah tidak mampu lagi untuk menghadapi sesuatu. Bahasa non verbal sering mengartikannya sebagai penghindaran. Merasa sudah tidak tertarik lagi dengan sesuatu yang dihadapi, atau sudah merasa galau dengan sesuatu yang dihadapi.
Terkadang pun ketika dengan bersandar pun aku sudah tidak lagi kuat menahan, aku akan memilih berbaring, kadang memikirkan sesuatu dengan mata terbuka, hingga terkadang pula terbawa tidur, dalam artian melepaskan diri dari kenyataan sejenak, mengistirahatkan otak yang sudah terasa berat melakukan kerjanya.
Seperti Sherlock Holmes yang juga akan bersandar di kursinya ketika pikirannya buntu, sambil menelungkupkan tangan dan menyentuhkan ujungnya ke hidung. Mungkin memang kita butuh tempat bersandar dalam artian fisik dan juga terkadang juga dalam artian psikologis. Beberapa hari ini pun aku cukup tenang ketika bisa curhat ke beberapa orang, atau bahkan lebih sering kepada Tuhan, rasanya jauh lebih tenang.
Well, masih banyak pekerjaan berat yang menanti dengan seabreg beban yang butuh punggung, bahu, bahkan kepala sekalipun untuk mengerjakannya. Kadang pikiran buntu menyerang, coba melakukan hal lain, seperti aku misalnya akan nge-blog, coret-coret, atau berusaha mencari mangsa buat diajak ngobrol. Entahlah, tetapi aku yang sekarang jauh lebih nyaman ketika bisa bertemu dengan orang lain dan mulai berbicara sesuatu yang menjadi pikiranku, daripada sekedar menuliskan, menulis bagiku hanya ketika aku merasa sedang tidak ada orang yang bisa mendengar atau bahkan meresponku. Selain itu juga menulis hanya sedang mendokumentasikan sesuatu yang aku lihat, dengar, dan rasakan agar kesempatan ke depan bisa aku baca lagi.
Di bulan ramadhan yang penuh berkah ini, aku justru merasa tergalaukan dengan skripsiku. Ya Allah maafkan aku ya gak bisa optimal nih ramadhannya.Hari ini aku tidak ingin ke kampus, rasanya malas untuk ke kampus. I need talk with someone ... maap ya temen-temen yang udah jadi katarsis galauku.

(23 Juli 2012, selesai ditulis 08.58 di warnet)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

AKHIRNYA PUNYA FOTO KELUARGA JUGAAAAAA!!!

Akhirnya Wisuda jugaaaaaa!!!!!   Meskipun sempet miskom sama Ayah, yang berakibat gak datangnya orang tuaku ketika wisuda di Universitas. TT juga. Berangkat sendirian, celingak and celinguk sendirian, sementara yang lain pada didampingi. Padahal ayah pengen banget liat aku pake Toga. Fiiiiuuh… Tapi sudahlah, cukup ada fotonya, kata Ayah. Tapi, mereka datang juga malam sekitar jam 8nan, dengan peristiwa tersasarnya rombongan ayah dan mamah entah ke mana? Tapi akhirnya datang juga mereka di kostku. Dan makan-makan besar bareng anak-anak kost. ^^b Yang terpenting bagiku di moment wisudaku (terutama di Fakultas) adalah ALHAMDULILLAH, AKHIRNYA AKU PUNYA FOTO KELUARGA JUGA, YATTA!!!! Liat teman-teman pada punya foto keluarga, kadang buatku iri.huhuhu Biasanya tu kalo aku foto sama ayah terus mamah yang motoin, kalo foto ma mamah, ayah yang motoin. Teknologi zaman dulu belum canggeh meen. Yeap, inilah keluarga kecilku (Cuma aku, ayah, dan mamah). Mungkin ini beberapa hal yang pe...

Kucing Kampus

Entah, kabar dari kecoa mana? Tiba-tiba banyak yang bilang ke aku, klo aku sekarang beda kaya aku yang dulu. Aku yang sekarang pada bilang aku gak jelaslah, aku GJ-lah (oh sama ya?), aku sotoy lah, bahkan ada yang bilang aku stress. Beda banget kaya aku yang dulu, klo aku yang dulu lebih sopan, alim, suka nunduk-nudnuk kaya onta, pokoknya sosok laki-laki idaman lah. Sekarang? Wuiiih, percaya atau nggak, sekarang aku lebih gila men. Alias gila beneran. Terus aku berpikir, emangnya aku kenapa ya? Segera aku teringat tentang diagnosaku ketika masih nyantri di RSJ di daerah Jawa Timur. Di situ hasil tes menunjukan bahwa aku terindikasi DEPRESI. Hmmm, mungkin ini dia masalahnya. Ternyata waktu dua minggu belum cukup untuk memulihkan kondisi kejiwaanku. Sehingga masih bisa kumat sekarang. Obatku mulai jarang aku minum. Mungkin aku perlu kontrol lagi barangkali ada peningkatan dari depresi mengarah kepada skizofrenia. Hal ini tidak lah aneh karena  akhir-akhir ini aku sering memilik...

PsikoSeks : Gila-Gilaan liatin PSK

Skali lagi aku gak pernah ambil ni mata kuliah? Tapi aku rasa aku ingin berbicara tentang pembicaraan yang menarik ini. Seks, kebutuhan biologis manusia untuk melanjutkan keturunan dan spesiesnya. Jangan sampe spesies manusia punah sehingga tahun 3000 nanti bumi ini akan dihuni oleh para sinpanse. Mulai dari sinpanse yang jadi Polisi, jadi Presiden, hingga jadi psikolog. Kacau ... Yap, sore ini seperti biasa aku melakukan kegiatan rutinku, yaitu Bengong. Kali ini yang menjadi tempat bengongku adalah MAJT atau Masjid Agung Jawa Tengah. Masjid yang luas ini sering menjadi tempat tujuan utama bagi mereka-mereka para mahasiswa yang sudah diwisuda. Aku gak ngerti kenapa? Pasti klo abis wisuda banyak teman-temanku atau senior-seniorku yang foto-foto ma keluarganya di sini? Mungkin karena juga masuknya murah klo pake kendaraan, yaitu motor roda dua cukup Rp 500,- Setelah maghrib tercetuslah insting liarku untuk melewati para PSK (Pekerja Seks Komersial) di sepanjang jalan antara stasiun ...