"I suppose, in the end, the whole of life becomes an act of letting go, but what always hurts the most is not taking a moment to say goodbye"
(Life of Pi)
Dulu aku memandang kata-kata ini biasa saja, "Apa sih?" Tapi sekarang aku paham rasanya...
Salah satu cerita setelah lulus kuliah, selain karir dan keluarga adalah tentang kehilangan. Sudah tak terhitung banyak berita duka yang aku atau kita dapati. Namun, berita duka paling menyakitkan adalah pada orang-orang yang sangat kita kenal. Cerita ini mungkin lumayan melankoli, kawan... Sudah beberapa teman kuliahku yang meninggal. Seakan tak percaya, dulu kita bersama. Mengerjakan tugas, diskusi, berorganisasi, dan sebagainya, tetapi semua itu seperti hanya mimpi.
Tahun 2026 ini, aku telah kehilangan orang-orang penting dalam hidupku. Pertama ayahku. Setelah 10 tahun berjuang dengan penyakitnya, akhirnya beliau beristirahat dengan tenang pada tanggal 13 Juni 2026. Di blog ini, aku sempet menceritakan tentang bagaimana sikap ayahku ketika aku skripsi atau ketika aku lulus. Menyebalkan memang, tapi sekarang aku paham setelah menjadi ayah. Sulit mengungkapkan rasa sayang, sehingga yang muncul justru kedinginan.
Namun... Ketika melihat ayah yang terbaring di salah satu tempat tidur pasien ICU, aku memutuskan untuk "memaafkan". Apakah selama ini aku tak memaafkan ayah? Sebenarnya tanpa diminta pun aku sudah memaafkan ayah. Bagaimanapun aku menyadari sesuatu ketika ayah diopname, ayah selalu bilang minta maaf jika banyak salah, tetapi aku selama ini hanya memaafkan dalam hati saja tanpa mengucapkan itu.
"Apa selama ini sebenarnya kata maafku yang ayah tunggu?" Tanyaku dalam hati menunggui ayah yang sudah koma hampir tiga hari di ICU. Oleh karena itu, ketika aku akan berpamitan ke ayah, aku berbisik,
"Imam pamit rumiyin, ayah sing tenang, Imam nyuwun pangapunten ne katah salahipun. Imam juga sampun ta maafaken ayah... (Imam izin dulu, ayah yang tenang, Imam minta maaf kalau banyak salah. Imam juga sudah memaafkan ayah)"
Siang itu, aku izin ke mamah untuk kembali ke Purbalingga, untuk menyelesaikan beberapa urusan. Besok rencanaku untuk kembali lagi. Takdir Alloh berkata lain, sesampainya di stasiun Purwokerto, setelah sholat ashar, hapeku berbunyi ketika aku akan melajukan kendaraanku.
"Mam, ayah wis langka (Mam, ayah sudah meninggal)" suara mamah terisak tangis di ujung telepon sana. Membuatku terdiam sejenak tetapi aku merasa tenang. Iya, tenang, karena aku merasa sudah lega menyampaikan maaf kepada ayah. Baru aku sadari bahwa selama ini, kata maafku begitu mahal kepada beliau. Terakhir aku minta maaf sepertinya 10 tahun yang lalu ketika kami berdebat terkait pernikahanku.
Meskipun aku tenang, tetapi aku hampir tidak kuat menahan air mata ketika memasukan ayah ke liang lahat. Ya Alloh, aku kuat-kuatin buat gak meneteskan air mata melepas saat-saat terakhir dengan beliau. Tergambar sudah ingatan masa laluku bersama beliau. Ingatan ketika aku membonceng ayah ke Tegal, atau ketika ayah menjemput di stasiun ketika aku kuliah, dan sebagainya.
"Terima kasih, untuk 38 tahun kenangan yang indah." Kataku di dalam hati, ketika perlahan tanah-tanah menutupi jenazah ayah yang terdiam di sana.
Cerita kedua, sedikit flashback malam ketika ayah meninggal. Mamah melarangku menyupir sendiri mobil, meskipun aku merasa baik-baik saja pada waktu itu. Aku luluh karena banyak orang menyarankanku untuk tidak menyupir sendiri. Aku pun mulai paham kenapa, karena salah satunya aku harus mengangkat dering telepon atau Whatsapp yang mengucapkan bela sungkawa. Sebenarnya sih aku ingin diam saja, tetapi Pak Yoko supir kakntor yang saya minta membawa mobil saya sudah menyebarkannya. Hadeeh...
Salah satu WA yang menarik adalah dari Purwanti. Wah sudah lama sekali Pur tidak WA. Aku pun tau bahwa dia sedang berjuang dengan sakit kanker-nya. DM-ku di IG pun tak pernah dibalasnya untuk memberikan semangat. WA yang sedikit aneh menurutku karena selain berbelasungkawa, dia juga merasa berhutang belum memabaca ceritaku yang sebenarnya berasal dari blog ini. Jadi kubilang, "Itu bukan utang, cuma pamer aja :D" Sure, aku tak pernah mengatakan itu "harus dibaca" cuma pengin bilang, "Kamu punya teman tengil kaya aku lho" sebelum dia kembali ke Palu. Kenapa harus ada emoticon ":D" karena aku tau kondisi dia juga sedang tidak baik-baik saja.
Cuma kata-kata di WA ini yang luput dari perhatianku ketika malam itu,
"Btw, terimakasih sdh menjadi ketua yg baik n maaf jika saat it sy bnyk kekurangan sbg wakil🙏🏻"
Kata-kata yang baru aku sadari setelah mendapat berita duka 3 September 2026 kemarin. Purwanti, yang dulu membantuku menghadapi skripsi dan partner organisasi, lomba, juga diskusi, yang namanya juga beberapa kali aku sebut di blog ini, telah tiada.
Seperti kutipan di filem Life of Pi di atas, yang menyakitkan bukan tentang melepaskan, tetapi tak pernah mengucapkan selamat tinggal. Aku terdiam lama ketika membaca berita ini dari grup angkatan 2006. Segera aku mencari informasi dari teman-teman terdekat Pur, Ganda, Dewinta. Seakan tak percaya. Aku hanya fokus di "cerita tentangku" yang belum selesai dia baca. Bahkan aku berencana mengirimkan link blogku ini ke dia, tetapi aku lupa. Aku tak fokus ke permintaan maaf dia, dan aku hanya membalasnya dengan "Sehat-sehat Pur" yang dibalas di jempol olehnya.
Seakan-akan ada sesuatu yang mengganjal...
Aku pun bertanya-tanya, kenapa Alloh selalu memberikan ruang penyesalan ketika kehilangan seseorang. Aku menyesal tak berada di samping ayah ketika beliau berpulang. Aku juga menyesal tak menjawab permintaan maaf Pur.
Bagaimanapun ini fase kehidupan, kita semua akan meninggal, cepat atau lambat. Namun, aku menyadari mengenai kepergian Ayah dan juga Pur, life must go on. Aku dan kita semua masih harus melanjutkan hidup, masih melanjutkan mimpi-mimpi yang belum tercapai selagi masih diberikan hidup oleh-Nya.
Komentar
Posting Komentar