Apa kabar November?
Rinai hujan jatuh membasahi
Bulan ini November ingatkan kembali
Setahun lalu aku berjanji
Takkan ulangi satu dosa nafsu diri
Sampai dimanakah ku kini
Masih terjebak kusadari
Siang dan malam terus berganti
Bagai angin berlalu tak bisa warnai
Terbelnggu hatiku ini
Sulit terbebas tak mengerti
Setiap kali ku mencoba berhenti
Dengan sesungguhnya sesal dalam diri
Dan beberapa lama ku jatuh lagi
Mugkin tak tegarnya niat hati
Hingga lagi lagi ku sesali
Tuhan ampuni hamba-Mu ini
Akankah November tahun nanti
Ku mash saja begini, jangan lagi
(Haris Isa)
Nasyid ini mengingatkan aku pada Novemberku setahun lalu. Ketika aku terbutakan dari cahaya harapan. Mata mampu melihat cerahnya mentari tetapi hati tak bisa melihat cerahnya.
Lebih tepatnya aku merasa futur saat itu. Lelah ketika apa yang telah aku berusaha bina tak mendapat apresiasi positif dari sekitarku. Rindu akan suasana yang sebelumnya aku coba bina justru membuat aku ingin cepat-cepat pergi dari suatu tampat yang sudah aku anggap rumah. Aku merasa asing meski di rumah sendiri, meskipun juga orang-orang di dalamnya masih sama. Tetapi, ada hal yang justru membuat aku bingung dengan semua ini?
Kota Semarang yang tadinya aku anggap seperti kota keduaku justru terasa asing buatku, aku ingin pergi. Yang dulu aku mampu melihatnya begitu memesona meski panas terik menyelimuti, kemudian aku tak mampu melihatnya lagi.
Kampusku yang dulu aku lihat sebagai “surga” kehidupanku di tengah-tengah hingar bingarnya kesibukanku tetap aku mampu nikmati. Tetapi, justru tak mampu aku lihat lagi kemudian. Karena permasalahan sebuah penilaian.
Waktu di mana aku korbankan study-ku hanya karena berusaha memperbaiki suatu hubungan yang telah aku coba bina bersama dengan yang lainnya yang jatuh tak meninggalkan keping-keping kebahagiaan yang terasakan. Ingin rasanya ini berakhir dengan indah tetapi aku merasa tak bisa lagi. Aku curahkan emosi dan pikiranku untuk yang telah terjadi, tetapi aku tak kunjung mendapatkan apa yang dulu aku rasakan. Karena aku justru asing di rumahku sendiri.
Lelah, ingin aku bangkit lagi namun terjatuh lagi kemudian, bangkit dan terjatuh lagi. Dengan sisa tenaga yang ada aku mencoba pergi keluar dari rumahku itu. Ingin melihat seperti apa rumahku jika aku lihat dari luar.
Banyak cara telah aku lakukan mulai dari mengikuti pelatihan psikoterapi atau pergi entah ke mana hingga terjatuh sakit. Rumah sakit jiwa, aneh tapi justru dari tempat ini aku banyak belajar tentang sesuatu antara apa kita sebut sebagai keabnormalan. Ternyata masih ada orang-orang di sekitarku yang justru harapannya terkungkung oleh diri mereka sendiri. Ada perlawanan apa yang aku sebut sebagai cinta sebagai madu yang menyembuhkan dan stress yang kemudian aku sebut sebagai racun. Ternyata ada kisah orang yang tak dipercayai oleh keluarganya.
Ternyata masih ada teman-temanku di luar rumahku dulu yang masih menerimaku. Masih ada teman-temanku yang lain masih bisa mendengarkan keluh kesahku, meski dari tempat yang jauh. Semua itu aku resapi maknanya begitu indah rencana Alloh SWT.
Aku mencoba berdiri kembali meski tak sebaik dulu lagi, paling tidak aku merasa lebih baik sekarang di rumahku yang baru. Meskipun aku tak mampu menjadi seperti yang diinginkan orang lain tetapi aku bahagia karena aku mampu menjadi diriku sendiri apa adanya. Kini aku yakin mampu melihat harapanku lagi. Mulai aku tulis bersama antara keihklasan dan harapan.
November masih empat bulan lagi dari bulan Juli ini tetapi entah rasanya begitu sudah dekat. Aku tak ingin lagi terjatuh seperti dulu lagi. Tak selamanya S-R tatapi O juga punya pilihan untuk memberikan R. Tak selamanya semua stimulus akan direspon sama tetapi organisme pun punya kuasa akan dirinya untuk merespon apa yang dikehendaki.
Meski begitu ternyata masih banyak yang percaya padaku untuk membingkai jalan ini. meski aku sendiri bingung kenapa?? Apapunlah, meski kini Semarang tak mampu aku lihat seindah dulu, meski kampusku tak lagi “surga” yang indah bagiku, meski kini justru aku ingin cepat-cepat pergi dari sini atau pergi keluar kota ini dari tempat ini, aku masih menaruh harapan untuk kota dan kampusku ini. entah kapan? Ataukah aku akan kembali lagi nanti, aku harap aku tak lagi rasakan kenangan setahun lalu di sini.
November, tinggal menunggu 4 bulan lagi. Apakah teman-teman serumahku dulu masih ingat dengan aku dan kisahku dulu?? Aku harap antar iya dan tidak. Iya jika justru memberikan kebaikan, tidak jika ternyata kembali aku rasakan suramnya hari-hari yang aku rasakan. Meski rasanya ingin berlari menjauh tetapi aku tak bisa menjauh.
November, aku titip salam untuk kenanganku yang lalu. Meski aku berharap November esok tidak akan seperti dulu lagi nanti. Terima kasih telah menemaniku dalam perjalanan mencari cinta-Nya yang aku rasakan begitu nikmat dan damainya di hati. Aku serahkan cinta dan bahagiaku ini pada-Mu ya Alloh. Kau berhak atas semua itu daripada aku.
(Faisal_ILham, 16 Juli 2009 pukul 17.50 WIB sambil denger nasyid dari Haris Isa yang aku beli di Daarut Tauhiid pada Kunjungan Psikologi Islami dulu)

