Minggu, 19 Juli 2009

Teringat November


Apa kabar November?

Rinai hujan jatuh membasahi

Bulan ini November ingatkan kembali

Setahun lalu aku berjanji

Takkan ulangi satu dosa nafsu diri


Sampai dimanakah ku kini

Masih terjebak kusadari


Siang dan malam terus berganti

Bagai angin berlalu tak bisa warnai


Terbelnggu hatiku ini

Sulit terbebas tak mengerti


Setiap kali ku mencoba berhenti

Dengan sesungguhnya sesal dalam diri

Dan beberapa lama ku jatuh lagi

Mugkin tak tegarnya niat hati

Hingga lagi lagi ku sesali

Tuhan ampuni hamba-Mu ini


Akankah November tahun nanti

Ku mash saja begini, jangan lagi

(Haris Isa)


Nasyid ini mengingatkan aku pada Novemberku setahun lalu. Ketika aku terbutakan dari cahaya harapan. Mata mampu melihat cerahnya mentari tetapi hati tak bisa melihat cerahnya.

Lebih tepatnya aku merasa futur saat itu. Lelah ketika apa yang telah aku berusaha bina tak mendapat apresiasi positif dari sekitarku. Rindu akan suasana yang sebelumnya aku coba bina justru membuat aku ingin cepat-cepat pergi dari suatu tampat yang sudah aku anggap rumah. Aku merasa asing meski di rumah sendiri, meskipun juga orang-orang di dalamnya masih sama. Tetapi, ada hal yang justru membuat aku bingung dengan semua ini?

Kota Semarang yang tadinya aku anggap seperti kota keduaku justru terasa asing buatku, aku ingin pergi. Yang dulu aku mampu melihatnya begitu memesona meski panas terik menyelimuti, kemudian aku tak mampu melihatnya lagi.

Kampusku yang dulu aku lihat sebagai “surga” kehidupanku di tengah-tengah hingar bingarnya kesibukanku tetap aku mampu nikmati. Tetapi, justru tak mampu aku lihat lagi kemudian. Karena permasalahan sebuah penilaian.

Waktu di mana aku korbankan study-ku hanya karena berusaha memperbaiki suatu hubungan yang telah aku coba bina bersama dengan yang lainnya yang jatuh tak meninggalkan keping-keping kebahagiaan yang terasakan. Ingin rasanya ini berakhir dengan indah tetapi aku merasa tak bisa lagi. Aku curahkan emosi dan pikiranku untuk yang telah terjadi, tetapi aku tak kunjung mendapatkan apa yang dulu aku rasakan. Karena aku justru asing di rumahku sendiri.

Lelah, ingin aku bangkit lagi namun terjatuh lagi kemudian, bangkit dan terjatuh lagi. Dengan sisa tenaga yang ada aku mencoba pergi keluar dari rumahku itu. Ingin melihat seperti apa rumahku jika aku lihat dari luar.

Banyak cara telah aku lakukan mulai dari mengikuti pelatihan psikoterapi atau pergi entah ke mana hingga terjatuh sakit. Rumah sakit jiwa, aneh tapi justru dari tempat ini aku banyak belajar tentang sesuatu antara apa kita sebut sebagai keabnormalan. Ternyata masih ada orang-orang di sekitarku yang justru harapannya terkungkung oleh diri mereka sendiri. Ada perlawanan apa yang aku sebut sebagai cinta sebagai madu yang menyembuhkan dan stress yang kemudian aku sebut sebagai racun. Ternyata ada kisah orang yang tak dipercayai oleh keluarganya.

Ternyata masih ada teman-temanku di luar rumahku dulu yang masih menerimaku. Masih ada teman-temanku yang lain masih bisa mendengarkan keluh kesahku, meski dari tempat yang jauh. Semua itu aku resapi maknanya begitu indah rencana Alloh SWT.

Aku mencoba berdiri kembali meski tak sebaik dulu lagi, paling tidak aku merasa lebih baik sekarang di rumahku yang baru. Meskipun aku tak mampu menjadi seperti yang diinginkan orang lain tetapi aku bahagia karena aku mampu menjadi diriku sendiri apa adanya. Kini aku yakin mampu melihat harapanku lagi. Mulai aku tulis bersama antara keihklasan dan harapan.

November masih empat bulan lagi dari bulan Juli ini tetapi entah rasanya begitu sudah dekat. Aku tak ingin lagi terjatuh seperti dulu lagi. Tak selamanya S-R tatapi O juga punya pilihan untuk memberikan R. Tak selamanya semua stimulus akan direspon sama tetapi organisme pun punya kuasa akan dirinya untuk merespon apa yang dikehendaki.

Meski begitu ternyata masih banyak yang percaya padaku untuk membingkai jalan ini. meski aku sendiri bingung kenapa?? Apapunlah, meski kini Semarang tak mampu aku lihat seindah dulu, meski kampusku tak lagi “surga” yang indah bagiku, meski kini justru aku ingin cepat-cepat pergi dari sini atau pergi keluar kota ini dari tempat ini, aku masih menaruh harapan untuk kota dan kampusku ini. entah kapan? Ataukah aku akan kembali lagi nanti, aku harap aku tak lagi rasakan kenangan setahun lalu di sini.

November, tinggal menunggu 4 bulan lagi. Apakah teman-teman serumahku dulu masih ingat dengan aku dan kisahku dulu?? Aku harap antar iya dan tidak. Iya jika justru memberikan kebaikan, tidak jika ternyata kembali aku rasakan suramnya hari-hari yang aku rasakan. Meski rasanya ingin berlari menjauh tetapi aku tak bisa menjauh.

November, aku titip salam untuk kenanganku yang lalu. Meski aku berharap November esok tidak akan seperti dulu lagi nanti. Terima kasih telah menemaniku dalam perjalanan mencari cinta-Nya yang aku rasakan begitu nikmat dan damainya di hati. Aku serahkan cinta dan bahagiaku ini pada-Mu ya Alloh. Kau berhak atas semua itu daripada aku.

(Faisal_ILham, 16 Juli 2009 pukul 17.50 WIB sambil denger nasyid dari Haris Isa yang aku beli di Daarut Tauhiid pada Kunjungan Psikologi Islami dulu)

Sebelum Ajalku

Sebelum ajalku aku ingin melihat luasnya dunia

Supaya aku bersyukur atas karunia-Nya.

Melihat yang belum pernah terlihat olehku.

Aku yakin bahwa cakrawala tak berujung.

Entah, apakah aku akan melihatnya langsung

Atau mendengar dari cerita orang lain?

Meski aku tau aku dapat melihatnya nanti …


Terima Kasih Cinta


Pagi ibuku meneloponku. Memang biasa tetapi ada yang beda dari biasanya. Ibuku, dua hari terakhir ini bermimpi tentang aku. Kemarin sabtu ibu mengira aku pulang, kemudian ayahku menjawab, “Imam Imam Balik? “ (Imam Imam Pulang?). Kemudian hari ini ibu bermimpi minta diambilkan sapu panjang untuk membersihkan sawang di langit-langit rumah. Saat ibu terbangun, ibu tersadar bahwa itu mimpi.

Satu hal yang bisa aku tangkap karena aku juga mempelajari mimpi semester kemarin bahwa sepertinya ibu merindukanku. Dulu setiap liburan semester dimulai aku akan langsung pulang meski satu atau dua hari kemudian aku pergi lagi. Namun, sekarang tidak. aku sengaja ingin menyendiri di Semarang karena banyak yang ingin (bukan harus) aku kerjakan. Dua semester lalu aku tak bisa menikmati liburanku karena sebuah proses belajar.

Kadang aku berpikir, “Dzalimkah aku pada ibu?” Meski aku pernah mengatakan pada ibu, aku mungkin tak akan puang ke Brebes, Bu jika lulus nanti. Selama ini ibu yang paling mengerti aku. Aku suka melihat paras wajah ibu, rasanya ingin menangis bahwa paras inilah yang telah mengajari aku arti sebuah ketegaran. Aku dan ibu sama mampu menutupi sebuah kesedihan dari orang lain dan berusaha tersenyum meski ada beban di hati.

Sedangkan ayahku? Aneh memang, pagi itu ibu juga menyuruhku jika aku kekurangan uang minta saja sama ayah langsung. Tapi jujur aku tak begitu berani. Padahal ayah gak galak. Bahkan klo sama ibu, ayah pasti kalah. Hehe… tapi, entahlah ayahku masih seperti orang asing untukku. Aku sendiri tak mengerti? Meski sudah sering aku ngobrol dengan beliau tetapi aku lebih bisa terbuka dengan ibu. Bukannya manja, klo dibilang anak mamah, ya emang, lha mau anaknya siapa? Tetapi, seperti ada perasaan batin yang aku belum bisa terima pada ayahku. Seminggu kemarin aku curhat ma sepupuku di Jakarta tentang ayah.

Yah, apapun yang telah terjadi dalam hidupku bersama orang tuaku, aku selalu mensyukurinya. Berharap semua kebaikan yang Alloh berikan padaku, mengalir juga untuk keduanya. Meski aku kini malas untuk pulang ke rumah jika memang tak ada kepentingan meski liburan, tetapi aku tetap menaruh harap untuk semuanya.

Meski sebenarnya aku tak menikmati ketika ada di rumah ketika pulang tetapi aku justru menikmati perjalanannya. Aku pernah mengatakan ini pada beberapa temanku bahwa aku ingin pergi ke Tegal tetapi Cuma main-main sebentar terus balik lagi ke Semarang. Lha, gak pulang ke rumah sekalian? Gak tuh? Kan Cuma mau main-main? Memang kesannya seperti apa? Tetapi seperti inilah aku yang sekarang dengan hobby baruku yang suka jalan-jalan, bukan traveling bagiku tetapi jalan-jalan, yang aku maksud aku bisa pergi-pergi sesuka hati ke manapun aku ingin asal rasa pusingku akan banyaknya persoalan yang aku hadapi. Bukannya mau lari dari kenyataan, tetapi aku ingin mencari udara baru dan view baru yang akan menyegarkan kembali pikiranku atau sekedar mencari inspirasi.

Ibu … terima kasih atas apa yang telah kau beri. Maafkan aku jika membuat hatimu terusik oleh perilakuku dan keinginanku untuk belajar tak lagi bergantung denganmu. Aku hanya ingin belajar bagaimana membalas kasihmu meski sebenarnya aku tak mampu memberikan tak sebanyak yang telah kau berikan padaku dan ayah yang telah berkorban demi cita-citaku.

Kalau aku boleh bernyanyi aku ingin menyanyikan lagu dari Afgan yang berjudul Terima Kasih Cinta. Yup, memang untuk saat ini aku belum mempunyai seseorang yang pantas aku maksudi dalam lagu ini, karena itu aku selalu terbayang akan bahagiamu ketika aku mendengar lagu ini. dan lagu Mother dari Seamo yang mewakili motivasimu untukku agar menggapai mimpi-mimpiku.

(Faisal_ILham, 22.45 WIB sambil dengerin lagunya Afgan yang berjudul Terima Kasih Cinta. Lagu ini sering aku dengar akhir-akhir ini ketika aku ikut pengabdiannya Pak Akung dosenku ke Lapas Anak di Kuterejo)

Selasa, 07 Juli 2009

Merindukan Sepertiga Malam Terakhir-MU

Ya Alloh salahkah aku jika aku terlalu merindukan sepertiga malam terakhir-Mu?

Diri ini sudah terlalu lama tak kunjung juga menjadikannya sebagai bagian dari diriku

Meski setiap malam aku mengharapkannya kan jadi bagian dari hidupku

Aku rindu bermunajat kepada-Mu

Aku rindu ingin bedzikir kepada-MU

Aku rindu menikmati heningnya dunia menanti pagi

Terlalu lama aku terbujuk rayuan setan untuk terlelap kembali dalam dingin

Ya Alloh ijinkan dia menjadi bagian dari hidupku sebelum ajalku …

Semalam di Bandung


24 Juni 2009

Menit-menit menanti malam rasanya begitu membingungkan bagiku waktu itu. Pukul 20.30 WIB dengan aku dan kawan-kawanku bersama Bapak-bapak dosen berangkat ke Bandung untuk kunjungan belajar. Hffff, rasanya perjuanganku, Anis, Ifha, dan Ganda sebentar lagi akan dijawab. Hingga hari Selasa, 23 Juni 2009 kami belum menemukan pengganti untuk kunjungan ke Pondok Pesantren Suryalaya. Hingga siang kami akhirnya menemukan Wiyata Guna, tempat rehabilitasi untuk para penyandang Tuna Netra sebagai penggantinya. Sebuah perjuangan yang bagiku sangat melelahkan, banyak hal-hal yang aku korbankan demi hal ini termasuk organisasi dan tugas kuliah.

Malam-malam kami lewati penuh harap esok hari, aku berkali-kali menulis di dinding FBku ketika akan melewati kotaku tercinta Brebes. Di Tanjung kami dihadang macet perbaikan jalan. Hah, rasanya tak sabar esok ingin aku lewati esok.

25 Juni 2009

Subuh kami singgah di Pom Bensin untuk Sholat Subuh di Sumedang. Rasa sejuk kami rasa di sini ditambah dengan para penjual Tahu Sumedang yang menawarkan ke kami. Perjalanan dilanjutkan hingga Bandung (sebelumnya kami singgah di rumah makan untuk menata diri dan sarapan). Tiba di Wiyata Guna pukul 09.00an, di sini kami belajar bagaimana para tuna netra belajar dalam kegelapan. Ya Alloh, bolehkah aku meminta jangan Kau ambil penglihatanku meski memang dosa sering aku lihat, beri aku kesempatan untuk menggantinya dengan ayat-ayatmu.

Selepas dari Wiyata Guna kami belanja di Pasar Baru. Entah apa yang ingin aku beli? Tapi, untungnya Azmi ma Amin ngajak sholat dzuhur di puncak sebuah pusat perbelanjaan. Subhanalloh, tingginya hampir seluruh kota Bandung terlihat. Area Pasar Baru sangat sesak oleh manusia dan kendaraan.

Selepas dari Pasar Baru, kami menuju ke Daarut Tauhid ponpesnya Aa Gym, sempat bolak-balik coz si pemandu acaranya lupa di mana tepatnya. Hehe… Ya klo ga kesasar kita gak liat Universitas Pendidikan Indonesia.

Subhanalloh kami sampai di DT begitu ramai, di sana-sini nuansa islami sangat terasa. Setelah pembagian kamar untuk bermalam aku ditelepon Pak Farihin, Humas DT. Kami sudah ditunggu di gedung Ulul Albab. Kami belum sholat ashar, segera kami sholat terlebih dahulu di Masjid DT. Ternyata Aa Gym lagi mengisi kajian ba’da ashar.

Pukul 16.15 an kami mulai diterima di DT oleh Humas DT, kebetulan ada senior kami yang menjadi pengurus yayasan, Mas Hendri (bingung mau panggil Mas atau Pak? Hehe..). Kacaunya teman-teman termasuk Pak Akung dan Pak Zaenal gak siap untuk disambut, mereka pikir sudah gak ada agenda. Haduuh, maap maap! Yah, Cuma 1 jam presntasi dari pihak DT tapi cukup memberikan gambaran DT kepada kami.

Malam mulai merajut, maghrib kan mulai tiba. Mmmm, kok ada sajian-sajian makanan di sepanjang area DT? Oya, ternyata ini hari kamis mungkin mereka mau buka puasa. Subhanalloh, indah banget! Kata Amin, “Ini kampung impiannya Insani.” Adzan maghrib bergema, aku sholat di masjid DT bareng Amin, di lantai utama atas. Ada 2 Televisi yang menyuting tempat imam sholat langsung. Kami beruntung masih sempat mendapatkan tempat, karena beberapa orang tak kebagian. Hmmm, rame kali ya? Selepas Sholat Maghrib, Aa Gym memberikan tausiyah singkat tentang keikhlasan.

Sehabis sholat maghrib aku kembali ke kamar, sekalian makan malam. Adzan isya mulai berkumandang aku buru-buru ke masjid meski teman-teman yang lain masih belum siap. Sampai di sana, sudah ramai nih di lantai utama atas. Haduuh gimana nih mana dah iqomat lagi. Sampai takbir dikumandangkan aku masih bingung. Untunglah dapat tempat meski mepet-mepet di belakang pojok. Baru kali ini aku sholat isya ribet banget gini.

Ba’da isya Aa Gym mengisi kajian Ma’rifatulloh. Hffff, banyak banget yang ikut ya??? Sebelum kajian dimulai, jamaah melantunkan Dzikir Asmaul Husna, sebenarnya gak hafa sich tapi pernah dengar aja di videonya ESQ. Aa Gym menyampaikan bahwa semua kemudharatan itu datang dari Alloh untuk menguji kita. Jika ada kebaikan, kita hanya sebagai media Alloh menyampaikan kebaikan. Jadi, kita harus ikhlas dan sadar akan hal itu.

Hingga pukul 21.00 WIB, kajian ditutup oleh muhasabah dari Aa Gym sendiri. Lampu utama dimatikan, redup seakan sunyi menghinggapi. Aku tak bisa mengikuti muhasabah dari Aa Gym, aku hanya menangisi diriku sendiri yang entah begitu sulit hati ini kemudian terbawa pada kondisi seperti ini. Selepas kajian, aku kembali ke penginapan yang kemudian bertemu Amin ma Azmi sedang beli Pizza. Wah, makan-makan nich! Setelah makan-makan, aku belum mengantuk maka aku jalan-jalan di kawasan DT sambil liat-liat penjual yang menjajakan buku-buku, VCD, kaset, minyak wangi, obat herbal, hingga pernak-pernik DT. Ternyata teman-teman akhwatku masih pada berkeliaran belanja. Ada yang masih melanjutkan hobinya berwisata kuliner lagi malem-malem. Ada-ada aja. Pulang ke kamar, Cuma tinggal Amin yang masih bertahan dengan film Kera Sakti anehnya itu. Ah, au ah, ngantuk pa lagi besok pukul 02.00 WIB ada Qiyamulail di masjid DT.

26 Juni 2009

Hffff, Pukul 03.30 WIB nich aku telat QL di Masjid DT, pa lagi teman-temanku masih pada nyenyak dengan tidurnya. Sudahlah berangkat aja sendiri, entar klo subuh mereka belum keliatan di masjid aku balik lagi aja. Suasana sepi terlihat di kawasan DT, namun aktivitas terlihat di masjid DT. Kira-kira kayak apa ya QL di DT? Setelah wudhu aku naik ke atas ternyata sudah mulai pada sholat berjamaah, tapi gak tau Tahajud apa Witir? Sudahlah sholat sendirian aja, sejuk, sunyi, rasanya ada perasaan berbeda ketika aku Tahajud di sini. Ini bukan mabit, bukan pula kegiatan rohis manapun tetapi kok lumayan rame ya yang dateng?

Hingga Aa Gym mulai memberi muhasabah. Jujur aku tak memahami muhasabahnya tetapi aku kembali menyedihi diriku sendiri yang tak mampu memahami, sekeras apa hatiku ini, hingga air mata pun tak menetes menyesali dosa. Lalu, tampak Edi, Amin, dan Azmi bermunculan meski subuh belum berkumandang. Cuma Azmi yang kemudian menunaikan sholat, Edi dan Amin kemudian duduk di sampingku, dan aku masih menikmati nuansa QL ini meski penuh penyesalan.

Subuh pun tiba, seusai sholat subuh Aa Gym mengisi kutum yang juga disiarkan di radio jaringan MQ Radio di seluruh Indonesia. Sebelum memulai kajian pagi itu, Aa menyapa beberapa jam’ah di antaranya kami dari UNDIP. Aku sempat bingung plus malu, bingung karena yang dimaksud UNDIP itu kami, atau ada yang lain? Malu karena yang datang dikit. Huhuhu… Kajian pagi itu membahas mengenai ikhlas dalam beribadah untuk Alloh maupun aktivitas kita. Seusai kajian subuh itu, aku dan teman-teman kembali ke penginapan untuk berkemas-kemas dana melanjutkan ke ITB.

Yah, DT meninggalkan banyak kenangan bagi di antara kami. Hingga sepulang dari ini, aku merindukan nuansa Qiyamulailnya yang benar-benar berbeda sehingga aku mulai menyukai QL meski kadang telat. Beberapa teman pun mengatakan hal yang sama. Kapan kita bisa ke DT lagi?? Sebuah kampung dengan nuansa Islami yang masyarakatnya juga terberdayakan. Aku juga merindukan hal yang sama Kawan!

Objek ke tiga kami adalah PAS ITB (Pembinaan Anak Salman Institut Teknologi Bandung). Memang aneh sich anak-anak psikologi justru kunjungannya ke anak-anak teknik. Hal yang mengangumkan kami setelah tiba di ITB rindangnya kampus ini. Kapan UNDIP bisa seperti ini ya?? Setibanya di kompleks Masjid Salman ITB kami langsung disambut oleh Ghozi salah satu pengurus PAS, dia bukan mahasiswa ITB tetapi mahasiswa Psikologi UNPAD.

Selama presentasi PAS, wuiiih fun banget. Kata Pak Akung membisiku, “Mereka itu biar tampang metal, tapi hati ikhwan. Klo kalian tampang ikhwan tetapi hati juga ikhwan.” Ada-ada juga Pak Akung. Selama presentasi kami terkagum-kagum dengan PAS ini, rasanya juga pengin buat di UNDIP juga. Lebih dari itu aku jujur kagum dengan pengelolaan masjidnya yang begitu menarik. Ada biro psikologinya juga. Sebuah inspirasi unik yang kami dapatkan dari PAS dan kami juga ingin menerapkannya di UNDIP. Kapan ya????

Seusai dari PAS, beberapa teman kami Nuram, Dessy, Agustin, Purwanti, ma Dewinta tertinggal, ah aku gak tau mereka mau ke mana? Klo Nuram dah ijin mau pulang ke Bekasi. Yah, sepilah bus kami sepulang nanti. Sepulang kami meninggalkan Bandung kami disuguhi pemandangan yang subhanalloh indahnya alam ciptaan Alloh. Seakan memberikan kepada kami ucapan selamat tinggal, sebuah kenangan akan manisnya Islam di kota Kembang ini.

Sepulang dari Bandung kami sempat berhenti sholat jum’at bagi yang laki-laki, singgah di oleh-oleh Khas Bandung sekalian yang putri juga sholat dzuhur, dan sempat mogok juga ni Bus di Brebes pada sekitar jam 7an malam, serta singgah makan malam di Tegal sekalian sholat maghrib yang di jama ke isya. Menuju ke Semarang biro perjalanan memutarkan film Wanita berkalung Sorban. Wah, seru juga meski ya gitulah. Tapi, untung Pak Zaenal dan Pak Akung berkenan mengkajinya. Bahwa kondisi pesantren yang sebenarnya tidak sepenuhnya benar di film itu.

Sesampainya di Semarang, satu per satu mulai turun untuk pulang seperti Edi dan Pak Zaenal. Kami sampai di Tembaang pukul 23.30 WIB. Malam … Alhamdulillah kami telah melalui hari-hari di Bandung penuh ilmu yang bermanfaat dan akan lebih bermanfaat jika kami aplikasikan. Meski banyak halangan-halangan itu bagi kami bumbu perjalanan ini. Semoga ke depannya lebih baik lagi. Amiiin…! Aku disambut listrik yang mati di kawasan Tembalang. Sepulang di kost beberapa belum terlelap tidur biasa kadang ada yang main game. Mereka pikir aku pindah kost, haha dasar!

Rasanya ingin lagi kembali merasakan nuansa di DT sana lagi, belajar lebih banyak di Salman ITB, dan berkeliling di Wiyata Guna. Yap, mungkin lain waktu…! Tapi, aku belajar sesuatu bahwa ilmu kita belum apa-apa jika belum kita manfaatkan untuk orang lain. Klo kata Ifha, wisata bengkel hati… Aku bangga ma kalian kawan-kawan PI!

Esok ujian sudah menyapa, tugas-tugas, dan agenda-agenda lain yang aku harus lalui dengan keihlasan.

(Cakrawala Tak Berujung, Selesai 22.30 WIB, 2 Juli 2009 sambil mendengarkan lagunya Haris Isa yang CDnya aku beli di kawasan Daarut Tauhid )

Senin, 11 Mei 2009

Inspirasi Mei

Ispirasi Mei, itu merupakan tema sebuah tayangan acara di sebuah stasiun televise swasta di Indonesia. Bagi lagunya nasyid Saujana dan NowSeeHeart, inspirasi itu adalah al-qur’an. Atau blogku yang berjudul Inspirasi Rumput, inspirasi itu bisa muncul di mana saja seperti rumput. Atau juga nama Flashdiscku yang aku ganti dengan inspirasi. Yupz, aku tak sadar kalau sebelum masuk bulan Mei ini kata “Inspirasi” itu. Mungkin ini suatu pertanda dari bahwa aku harus menemukan inspirasi itu, entah dari ayat kauliyah (Al-Qur’an) maupun Kauniyah (dari manapun juga) semuanya sebuah inspirasi dari Dzat Yang Maha Sempurna.

Semoga di bulan ini aku dapat memahami sebuah inspirasi itu,untuk hidupku maupun untuk orang lain. Untuk berkarya dalam bentuk apapun. Sesuai dengan moto baruku, Kemenangan terbesar adalah Mengalahkan Diri Sendiri. Menepis semua penghalang, keraguan, maupun bisikan setan yang terkutuk. Semoga Inspirasi Mei ini aku mampu terinspirasi untuk berubah lebih baik lagi, berkarya, dan member sebanyak-banyaknya bukan menerima sebanyak-banyaknya. Amiiin.

Simfoni Di Kala Hujan

Pernah mendengar simfoni di kala hujan? Aku paling suka mendengarnya. Di semarang ini memang jarang terdengar kecuali di kampusku yang dekat sawah. Yupz, simfoni alam yang syahdu, dengan suaran katak sawah yang mensyukuri datangnya hujan, meski banyak orang yang mengeluh karena tertahan di suatu tempat. Terkadang hujan pun bisa menyelamat kita dari janji yang harus kita tepati namun kita sendiri bosan atau lelah.

Aku lebih suka melihat bumi ini yang basah setelah hujan (bukan banjir ho!), rasanya sejuk sekali di hati.

Di kampungku kami memang jarang bermain ketika hujan, apalagi aku bisa kena marah nenek karena hujan-hujanan. Meski kadang nekat. Hujan dan lampu mati itu yang paling sering aku rasakan. Mengingatkan aku ketika nenek membuat minyak jelantah untuk rambut (Huuu, jadi rindu nenek, tapi nenekku sudah meninggal tepat aku diterima di UNDIP). Mencium bau harumnya minyak yang dibuat dari kelapa itu.

Saa itu lah suasana damai terasa, senyap hanya terdenar suara hujan dan paduan suara katak yang bernyanyi. Hujan juga mengingatkan aku dengan madrasahku yang karena hujan aku pernah jatuh dari aula karena licin, namun indah sekali melihat hujan dari sini. Apa lagi sebelah selatannya adalah panorama gunung Slamet yang memesona.

Entahlah, ketika hujan aku ingin ada di suatu tempat dan menikmati jatuhnya hujan. Meski pelangi jarang terihat dari Kampungku tapi kami pernah mengira pelangi itu adalah tumpahan bensin dari kendaraan yang melintas karena bentuknya yang jika kena air setelah hujan berwarna-warni seperti pelangi “Inikah Pelangi?” heran aku dan kawan-kawanku.

Yang menarik dari hujan adalah ketika membuatku bisa tidur lebih nyenyak. Hanya dengan hujan aku bisa tidur lebih nyanyak, bebas dari suara gaduh tontonan wayang atau acara gaduh apapun dari kampung lain yang meski cukup jauh masih bisa aku dengar. Aku bisa tidur nyanyak di mana pun. Rasanya bisa seperti kembali ke rumah. Mendengar suara simfoni alam yang merdu menyejukan hati yang gundah ini.